Bismillah
INISIATIF pada ANAK
> Mama, aku aja yaa..yang nyuci piring!Aku bisa kok.. Ya, Maa yaaa..
> Bunda, dedek mau dong potong-potong wortelnya. Dedek mau masak sayur kayak bunda.
> Ibu, Ayya deh yang masuk-masukin bajunya ke ember.. Ayya kan suka air, sambil nyuciin baju ibu juga.
> Ayaaaah, Bimo aja yaa yang cuci mobilnya, pasti bersih lho yah!
> Ummi, aku mau kasihkan pensilku yang ini yaa, buat Susi. Kasihan dia, tadi pensilnya hilang di kelas.
Keterangan: Kalimat ini kurang lebih diucapkan oleh anak-anak berusia 3-6 tahun.
Question:
> Namun, biasanya apa dan bagaimana reaksi yang kita lakukan bila anak mengemukakan hal tersebut?
Saudaraku,
ketika kita melarang mereka apalagi sampai memarahi dan merendahkannya,
maka tanpa disadari kita telah “meruntuhkan” jiwa INISIATIF anak yang
sedang terbangun. Ketika ada penolakan atau kalimat larangan, maka anak
akan berpikir bahwa penawaran bantuan/pertolongan yang mereka lakukan
adalah hal yang salah/ tidak boleh/ tidak pantas, dsb.
Bila kondisi ini terjadi terus-menerus, jangan heran bila kelak anak kita menjadi sosok yang:
· Penakut (karena tidak berani mencoba akibat sering dilarang/ ditolak inisiatifnya, sehingga takut salah)
· Cuek/tidak
peduli dengan lingkungan sekitar (karena anak sudah terbiasa tidak
diberikan kepercayaan untuk melakukan suatu tugas, yang sederhana
sekalipun)
· Minder/rendah diri (karena merasa tidak dapat
melakukan apa-apa ketika membandingkan diri dengan orang lain/ teman
seusia yang ternyata terampil dalam melakukan sesuatu àakibat tidak
adanya pengarahan dan pembiasaan/ terlalu dimanjakan)
>
Mengapa rata-rata reaksi yang muncul dari setiap orangtua adalah
pelarangan/ penolakan?! Karena orangtua kerap menganggap bahwa anak
akan:
· Mengacaukan segalanya
· Membuat ricuh suasana
· Tidak diperbolehkan karena tidak tega, masih terlalu kecil
· Melakukan pekerjaan yang tidak akan sesuai dengan harapan (anak akan menggagalkan)
> So, what should we do?
Ketika
anak sedang menunjukkan inisiatifnya, maka FASILITASIlah! Tanamkan pada
diri kita rasa percaya terhadap anak. Berikan anakkita kesempatan untuk
“berkarya”. Berikanlah kesempatan dan kepercayaan meskipun hanya 1/8
bahkan 1/16 dari pekerjaan kita. Tahukah kita? Bahwa ketika mereka
sedang meniru, berarti mereka sedang mengeksplorasi diri atas lingkungan
disekitarnya. Sehingga yang anak-anak butuhkan adalah pengarahan
sebaik-baiknya.
Ketika anak diberikan kesempatan dan kepercayaan,
maka merekapun akan merasa bangga karena inisiatifnya telah kita hargai.
Apalagi saat mereka tahu bahwa orangtuanya senang atas hasil “kerja”
mereka. InsyaAllah di hari-hari ke depan, anak kita akan semakin berani,
kreatif dan bersemangat.
Pada saat kita
memberikan mereka kesempatan dan kepercayaan, maka kita boleh
menyisipkan pesan (sebagai daya tawar orangtua..), misalnya:
· Oke,kamu boleh bantu bunda, tapi hati-hati yaa pegang pisaunya.
· Terimakasih
sayang, kamu sudah mau bantu ibu. Nah, nanti waktu mencuci..bajumu
dijaga tetap kering yaa, supaya tidak masuk angin, oke!
Saudaraku,
di usia 3-6 tahun, kita bisa menanamkan habits..Habit kebaikan
tentunya! Termasuk dalam menumbuhkan karakter positif pada diri anak,
diantaranya jiwa INISIATIF. Jangan sampai kita kelak (sebagai orangtua)
mengeluh dan mempertanyakan:
· MasyaAllah, ummi punya 4 anak gadis, kok ni rumah tetap kayak kapal pecah begini yaa!
· Kenapa anak saya kerjaannya maiiiiin melulu, gak pernah bantu-bantu di rumah!
· Haduuuh,si Ujang.. masak diminta untuk ngunci pagar aja sudah bangeeet!
(ketika
anak sudah beranjak remaja/ dewasa dan berlaku demikian, maka janganlah
menyalahkan mereka.. introspeksilah diri kita sendiri sebagai
orangtua.)
Perilaku dan karakter anak, adalah hasil
didikan dariorangtua mereka. Dan kita pada hari ini adalah hasil dari
didikan orangtua kita di masa lalu. Bila kita merasa ada yang “kurang”
pada diri kita karena pola didik yang kurang tepat yang pernah kita
terima di masa lalu, maka jangan pernah mau anak kita mengalami hal yang
sama!
“Jangan patahkan jiwa inisiatif anak, yang akan
sangat berguna bagi mereka di masa yang akan datang. Jangan sampai kita
merancang keterpurukan anak kita sendiri, karena akan mengakibatkan
penyesalan yang mendalam…”
*semoga bermanfaat*
_salam PARENDU_

0 komentar:
Posting Komentar