MASAK...
MASAK...
Ternyata, bagi orang-orang tertentu, dalam membuktikan bahwa makanan yang mereka masak “layak untuk dikonsumsi manusia”, butuh perjuangan yang ruarrr biasa. Apa ada kaitannya dengan bakat? Istilah “tangan dingin” ? Memang malas? Atau sudah suratan takdir? Hehe.
Berbekal niat dan semangat saja tidak cukup kawan! Butuh latihan dan keshabaran, termasuk berbesar hati dalam menerima hujatan. :D Dari mulai salah bumbu, salah bahan, salah takaran, salah perhitungan waktu, hingga salah sangka. Salah berprasangka bahwa sang menu akan mendapatkan sambutan hangat dari para ‘relawan.’
Saat satu suapan mendarat di mulut seorang relawan, dagdigdugserr rasanya. Makanan mulai dilumat dan munculnya berbagai ekspresi spontan. Yang pasti, bukan ekspresi suka cita, tapi sebaliknya: duka cita. L Trauma! Jangan sampai para relawan jadi trauma dengan karya yang mereka terima. So, berbagai alibi terluncur untuk sekedar membesarkan jiwa. Haha. Tapi, ironis juga jika makanan yang dibuat rasanya enak, pasti dikira faktor “lucky”. Fiuuhhh...
Anyway, apakah pengalaman pahit-getir-nahas ini menggentarkan semangat untuk tetap mencoba? NO! Tentu tidak, jenderal! Sebab, saya yakin setelah bersakit-sakit dahulu, bisa happy kemudian. J Orang boleh nyinyir dengan usaha Anda, tapi...dunia tak akan kiamat karena nyinyiran mereka. Bahagia itu, adanya disiniiiii... **eehh
Hmm, memasak memang bukan kewajiban, tapi sebuah keterampilan. Emang gak bakalan dosa kalau kita ‘gagap masak’. Tapi, ada tujuan dibalik keterampilan seseorang dalam menyajikan masakan. Termasuk, kelak ingin keluarga kita, anak-anak kita terbiasa makan makanan yang halal-thayyib dan seimbang. Gak bisa selalu andalkan orang lain kaaan? Gak perlu lah terobsesi oleh chef Farrah Quin atau chef Marinka, apalagi chef Juna... So, tetap semangat memasak kawans! ;)

0 komentar:
Posting Komentar