Jumat, 28 November 2014
Minggu, 19 Oktober 2014
Sesi Makan
Sesi Makan ^_^
Sewaktu masih mengajar di SD, setiap kali sesi makan dimulai pasti kami sebagai guru, akan menemukan beberapa anak yang tipe pemilih makanan. Kebanyakan sih, tidak suka dengan sayuran. Tapi, ada juga yang tidak mau pakai nasi. Ada pula yang harus selalu makan ayam goreng. Ada yang anti daging, dan sebagainya. Kalau kami tanya: “Kenapa sayurnya gak dimakan?”, jawaban paling sering muncul adalah: soalnya sayur gak enak bu...
Jadi teringat dengan sebuah buku terkait hal ini, yang kurang-lebih isinya menjelaskan bahwa : pengalaman makan di masa kecill (bayi, balita), akan sangat berpengaruh pada pandangan dan kebiasaan seorang anak terhadap ‘acara makan’ di masa pertumbuhan lanjutan dan masa dewasanya kelak.
Jadi saat acara makan, hendaknya orangtua bisa menjadikan moment tersebut sebagai kegiatan yang menyenangkan. Makan menjadi kegiatan yang penuh kehangatan. Menu makanan pun, baiknya divariasikan. Bahkan, tidak jarang orangtua harus cerdas mensiasati sajian yang diberikan kepada buah hatinya.
Orangtua sekaligus memperkenalkan sang anak dengan berbagai jenis makanan (utama: sayur, nasi, daging, ikan, dsb). Gestur (bahasa tubuh), cara menatap saat orang tua menyuapi atau menemani anak makan pun, harus diperhatikan. Saat sesi makan ini, orangtua hendaknya sambil mengucapkan kalimat-kalimat positif, meskipun anak masih bayi sekalipun (saat masa ASI, masa MPASI). Tidak lupa, ada sikap mental yang perlu dimiliki oleh orangtua, yakni à jangan mudah menyerah.
Saya pribadi, adalah orang ‘pemakan segala.’ Alhamdulillah, Allah menjadikan saya orang yang tidak pernah pantang dengan jenis makanan apapun (selama halalan thayyiban). Jadi, kini saya menerawang: Apa dan bagaimanakah BEST EFFORT yang telah dilakukan oleh almh. Mama, saat saya kecil dulu? :)
MASAK...
MASAK...
Ternyata, bagi orang-orang tertentu, dalam membuktikan bahwa makanan yang mereka masak “layak untuk dikonsumsi manusia”, butuh perjuangan yang ruarrr biasa. Apa ada kaitannya dengan bakat? Istilah “tangan dingin” ? Memang malas? Atau sudah suratan takdir? Hehe.
Berbekal niat dan semangat saja tidak cukup kawan! Butuh latihan dan keshabaran, termasuk berbesar hati dalam menerima hujatan. :D Dari mulai salah bumbu, salah bahan, salah takaran, salah perhitungan waktu, hingga salah sangka. Salah berprasangka bahwa sang menu akan mendapatkan sambutan hangat dari para ‘relawan.’
Saat satu suapan mendarat di mulut seorang relawan, dagdigdugserr rasanya. Makanan mulai dilumat dan munculnya berbagai ekspresi spontan. Yang pasti, bukan ekspresi suka cita, tapi sebaliknya: duka cita. L Trauma! Jangan sampai para relawan jadi trauma dengan karya yang mereka terima. So, berbagai alibi terluncur untuk sekedar membesarkan jiwa. Haha. Tapi, ironis juga jika makanan yang dibuat rasanya enak, pasti dikira faktor “lucky”. Fiuuhhh...
Anyway, apakah pengalaman pahit-getir-nahas ini menggentarkan semangat untuk tetap mencoba? NO! Tentu tidak, jenderal! Sebab, saya yakin setelah bersakit-sakit dahulu, bisa happy kemudian. J Orang boleh nyinyir dengan usaha Anda, tapi...dunia tak akan kiamat karena nyinyiran mereka. Bahagia itu, adanya disiniiiii... **eehh
Hmm, memasak memang bukan kewajiban, tapi sebuah keterampilan. Emang gak bakalan dosa kalau kita ‘gagap masak’. Tapi, ada tujuan dibalik keterampilan seseorang dalam menyajikan masakan. Termasuk, kelak ingin keluarga kita, anak-anak kita terbiasa makan makanan yang halal-thayyib dan seimbang. Gak bisa selalu andalkan orang lain kaaan? Gak perlu lah terobsesi oleh chef Farrah Quin atau chef Marinka, apalagi chef Juna... So, tetap semangat memasak kawans! ;)
PELANGI...
PELANGI...
Perbedaan adalah anugerah. Awalnya mungkin kita kerap merasa tidak nyaman dan terancam bila sedang dihadapkan dengan perbedaan. Ego kadang menguasai diri. Selalu merasa benar, tak pernah mau kalah. Namun, bukankah dengan adanya perbedaan kita bisa saling melengkapi? Selain itu, selalu ada kisah indah yang menyertai proses belajar kita dalam menerima perbedaan. Oleh karenanya, saya senang sekali menganalogikan perbedaan dengan fenomena ‘pelangi.’ Pelangi? Ya. Sebab dari gradasi warna pelangi lah kita bisa membuktikan bahwa perbedaan itu memesona... Perbedaan warna pelangi, berdampingan dan membaur bersama...
Namun, ternyata ada pelangi yang TIDAK indah sama sekali. Pelangi yang mana? Yang digunakan sebagai lambang legalisasi penyimpangan orientasi seksual. Belakangan, kita sering menyebutnya dengan istilah LGBT (lesbi-gay-biseksual-transgender). Kenyataan ini begitu menghantam nurani... Mengapa pelangi yang kukagumi, menjadi perlambang global yang menaungi para insan ‘kebingungan’ tadi?
Sudah banyak upaya legalisasi LGBT yang dilakukan secara smooth, tanpa kita sadari. Paham para penggiat LGBT, ceritanya memang mencoba 'mengedukasi' masyarakat untuk bisa saling menghormati sesama manusia, termasuk orientasi seks yang menyimpang sekalipun. Anggapan ini, seolah penghormatan terhadap HAM.. bersikap toleran dan 'menanggung bersama' (bersimpati, berempati).
Sebaliknya, bagi para aktivis LGBT ini, justru malah mengatakan masyarakat umum (normal) sedang diserang 'HOMOPHOBIA' dan bagi mereka ini termasuk 'social diseases'. Astagfirullah, sudah kebalik-balik ya! Kaum LGBT ini akan menganggap dunia amat sangat kejam pada mereka...selama masyarakat tidak menerima paham mereka.
Did u know? They said: my body is my choice....
Masya Allah, ini adalah salah satu tantangan berat yang akan dihadapi oleh generasi anak-cucu kita nanti. Apa saja yang sudah kita siapkan untuk menghalau, melawan arus negatif yang berseliweran silih berganti ini? Mulai sekarang, kita harus bisa berpikir dengan dua kondisi. Dalam arti, jangan hanya merasa aman karena anak atau kerabat kita bukan pelaku, tapi waspadailah ... jangan sampai anak atau kerabat kita menjadi korban si pelaku! Kuatkan anak-anak kita dengan aqidah islamiah...sedari dini. Peran ORANG TUA amat penting disini...
Akan tetapi, sebelum menguatkan sang anak, kita harus ingat dahulu 1 hal: bahwa salah satu hak anak adalah untuk memiliki orang tua yang tangguh dan hebat.
Jadi, mari terus-menerus memperbaiki diri seraya menguatkan keluarga kita dari berbagai ancaman dahsyat seperti ini... dan masih banyak lagi.
**Kendati, eksistensi mereka memang nyata adanya...maka, kita hargai mereka sebagai manusia seutuhnya. Namun, secara tegas TIDAK menerima paham yang mereka bawa. Tahu kah... Mereka pun sebetulnya tak ingin dikucilkan, ingin dirangkul, butuh dibantu.
Perbedaan adalah anugerah. Awalnya mungkin kita kerap merasa tidak nyaman dan terancam bila sedang dihadapkan dengan perbedaan. Ego kadang menguasai diri. Selalu merasa benar, tak pernah mau kalah. Namun, bukankah dengan adanya perbedaan kita bisa saling melengkapi? Selain itu, selalu ada kisah indah yang menyertai proses belajar kita dalam menerima perbedaan. Oleh karenanya, saya senang sekali menganalogikan perbedaan dengan fenomena ‘pelangi.’ Pelangi? Ya. Sebab dari gradasi warna pelangi lah kita bisa membuktikan bahwa perbedaan itu memesona... Perbedaan warna pelangi, berdampingan dan membaur bersama...
Namun, ternyata ada pelangi yang TIDAK indah sama sekali. Pelangi yang mana? Yang digunakan sebagai lambang legalisasi penyimpangan orientasi seksual. Belakangan, kita sering menyebutnya dengan istilah LGBT (lesbi-gay-biseksual-transgender). Kenyataan ini begitu menghantam nurani... Mengapa pelangi yang kukagumi, menjadi perlambang global yang menaungi para insan ‘kebingungan’ tadi?
Sudah banyak upaya legalisasi LGBT yang dilakukan secara smooth, tanpa kita sadari. Paham para penggiat LGBT, ceritanya memang mencoba 'mengedukasi' masyarakat untuk bisa saling menghormati sesama manusia, termasuk orientasi seks yang menyimpang sekalipun. Anggapan ini, seolah penghormatan terhadap HAM.. bersikap toleran dan 'menanggung bersama' (bersimpati, berempati).
Sebaliknya, bagi para aktivis LGBT ini, justru malah mengatakan masyarakat umum (normal) sedang diserang 'HOMOPHOBIA' dan bagi mereka ini termasuk 'social diseases'. Astagfirullah, sudah kebalik-balik ya! Kaum LGBT ini akan menganggap dunia amat sangat kejam pada mereka...selama masyarakat tidak menerima paham mereka.
Did u know? They said: my body is my choice....
Masya Allah, ini adalah salah satu tantangan berat yang akan dihadapi oleh generasi anak-cucu kita nanti. Apa saja yang sudah kita siapkan untuk menghalau, melawan arus negatif yang berseliweran silih berganti ini? Mulai sekarang, kita harus bisa berpikir dengan dua kondisi. Dalam arti, jangan hanya merasa aman karena anak atau kerabat kita bukan pelaku, tapi waspadailah ... jangan sampai anak atau kerabat kita menjadi korban si pelaku! Kuatkan anak-anak kita dengan aqidah islamiah...sedari dini. Peran ORANG TUA amat penting disini...
Akan tetapi, sebelum menguatkan sang anak, kita harus ingat dahulu 1 hal: bahwa salah satu hak anak adalah untuk memiliki orang tua yang tangguh dan hebat.
Jadi, mari terus-menerus memperbaiki diri seraya menguatkan keluarga kita dari berbagai ancaman dahsyat seperti ini... dan masih banyak lagi.
**Kendati, eksistensi mereka memang nyata adanya...maka, kita hargai mereka sebagai manusia seutuhnya. Namun, secara tegas TIDAK menerima paham yang mereka bawa. Tahu kah... Mereka pun sebetulnya tak ingin dikucilkan, ingin dirangkul, butuh dibantu.
Jumat, 17 Oktober 2014
Why must parenting ?!
Why must parenting ?!
Mengapa saya antusias untuk 'menelusuri' dunia parenting?
Sebab, kebanyakan masalah itu timbul berawal dari personal. Dan personal yang bermasalah, pasti berasal dari keluarga yang bermasalah. Padahal, kekuatan besar...selalu berawal dari yang kecil. Kekokohan bangunan, selalu berasal dari pondasi. Tiada puncak yang tinggi menjulang, tanpa dasar yang mengakar. Pribadi manusia yang utuh dan hebat, didukung oleh keluarga dahsyat.
Kurang bijak rasanya, bila kita sampai berpikir bahwa ilmu parenting hanya COCOK dipelajari bagi mereka yang sudah berkeluarga sendiri, sudah menikah dan memiliki anak. Pada kenyataannya...justruuu, itu sebetulnya sudah agak terlambat. Bahkan, yg sudah berkeluarga pun...masih 'asing' dengan 'ke-parenting-an.'
Tantangan yaa, saat mereka yang masih lajang...namun gemar mempelajari parenting. Saat mencoba share, sudah dipastikan ada orang yang meragukan konten sharing kita. Sebab, apa yang dipelajari baru sekedar teori. Zero experience!
Apa betul demikian? No! Tidak sepenuhnya, nol besar.
Bukankah inti dari parenting adalah KELUARGA? Jadi, selama kita masih memiliki dan berada dalam suatu keluarga, maka mempelajari parenting menjadi penting dan RELEVAN untuk siapa saja.
Lalu, bukankah interaksi kita pun adalah dengan para anggota keluarga lain di sekitar kita?
Bukankah kita pernah merasakan pola asuh orangtua? Mengecap pola didik guru-guru kita? Tenggelam dalam pusaran sistem pendidikan di Indonesia?
Bukankah Islam adalah agama yang antisipatif? Selalu mengarahkan ummat agar bersiap-siap sebelum menghadapi 'berbagai kemungkinan.'
Mungkin ada yang belum menikah, tapi inshaa Allah akan menikah. Mungkin ada yang belum memiliki keturunan, tapi inshaa Allah akan memilikinya kelak. Jikalau Allah berkehendak lain, namun kita masih memiliki kesempatan untuk berbagi dan mencoba menjadi manusia yang bermanfaat.
Menjadi orangtua dan menjadi seorang anak, merupakan peran yang menjadi kesatuan. Masing-masing, ada poin kewajiban yang harus ditunaikan serta hak yang harus didapatkan. Keduanya adalah peran mulia yang Allah sandangkan pada diri kita, sebelum mengemban amanah besar lainnya. Ilmu parenting, in shaa Allah akan membantu kita agar lebih mudah dalam memahami dan mempraktikkan semua itu.
Parenting, menyadarkan kita untuk kembali 'pulang ke rumah.' Untuk bersama-sama menyelamatkan keluarga. Keluarga yang menjadi intisari gilang gemilangnya peradaban dunia.
Bilapun kita masih merasa memiliki masalah pribadi atau keluarga, in shaa Allah itu bisa terobati dan terselesaikan bertahap melalui 'sedekah.' Sedekah ilmu untuk membantu masalah orang lain, memudahkan urusan orang lain.
Parenting, is our healing...
Mengapa saya antusias untuk 'menelusuri' dunia parenting?
Sebab, kebanyakan masalah itu timbul berawal dari personal. Dan personal yang bermasalah, pasti berasal dari keluarga yang bermasalah. Padahal, kekuatan besar...selalu berawal dari yang kecil. Kekokohan bangunan, selalu berasal dari pondasi. Tiada puncak yang tinggi menjulang, tanpa dasar yang mengakar. Pribadi manusia yang utuh dan hebat, didukung oleh keluarga dahsyat.
Kurang bijak rasanya, bila kita sampai berpikir bahwa ilmu parenting hanya COCOK dipelajari bagi mereka yang sudah berkeluarga sendiri, sudah menikah dan memiliki anak. Pada kenyataannya...justruuu, itu sebetulnya sudah agak terlambat. Bahkan, yg sudah berkeluarga pun...masih 'asing' dengan 'ke-parenting-an.'
Tantangan yaa, saat mereka yang masih lajang...namun gemar mempelajari parenting. Saat mencoba share, sudah dipastikan ada orang yang meragukan konten sharing kita. Sebab, apa yang dipelajari baru sekedar teori. Zero experience!
Apa betul demikian? No! Tidak sepenuhnya, nol besar.
Bukankah inti dari parenting adalah KELUARGA? Jadi, selama kita masih memiliki dan berada dalam suatu keluarga, maka mempelajari parenting menjadi penting dan RELEVAN untuk siapa saja.
Lalu, bukankah interaksi kita pun adalah dengan para anggota keluarga lain di sekitar kita?
Bukankah kita pernah merasakan pola asuh orangtua? Mengecap pola didik guru-guru kita? Tenggelam dalam pusaran sistem pendidikan di Indonesia?
Bukankah Islam adalah agama yang antisipatif? Selalu mengarahkan ummat agar bersiap-siap sebelum menghadapi 'berbagai kemungkinan.'
Mungkin ada yang belum menikah, tapi inshaa Allah akan menikah. Mungkin ada yang belum memiliki keturunan, tapi inshaa Allah akan memilikinya kelak. Jikalau Allah berkehendak lain, namun kita masih memiliki kesempatan untuk berbagi dan mencoba menjadi manusia yang bermanfaat.
Menjadi orangtua dan menjadi seorang anak, merupakan peran yang menjadi kesatuan. Masing-masing, ada poin kewajiban yang harus ditunaikan serta hak yang harus didapatkan. Keduanya adalah peran mulia yang Allah sandangkan pada diri kita, sebelum mengemban amanah besar lainnya. Ilmu parenting, in shaa Allah akan membantu kita agar lebih mudah dalam memahami dan mempraktikkan semua itu.
Parenting, menyadarkan kita untuk kembali 'pulang ke rumah.' Untuk bersama-sama menyelamatkan keluarga. Keluarga yang menjadi intisari gilang gemilangnya peradaban dunia.
Bilapun kita masih merasa memiliki masalah pribadi atau keluarga, in shaa Allah itu bisa terobati dan terselesaikan bertahap melalui 'sedekah.' Sedekah ilmu untuk membantu masalah orang lain, memudahkan urusan orang lain.
Parenting, is our healing...
Jumat, 19 September 2014
Titik Balik
Titik Balik
Apa yang Allah tetapkan, tidak akan pernah ada yang luput dari hikmah. Saya membayangkan, saat orang tua tetap dalam "kebijaksanaannya."..dan seorang anak tetap dengan kekanak-kanakannya, maka hubungan ortu-anak tidak menemukan situasi "titik balik."
Anak akan bertumbuh dan akan semakin dewasa pemikirannya. Sedangkan orang tua menjadi sebaliknya. Orang tua kelak semakin renta, namun wataknya malah kembali seperti seorang anak, misal: menjadi mudah tersinggung, emosional, ingin diperhatikan lebih, ingin selalu ditemani, dsb.
Di titik ini, saya jadi teringat dengan petikan kalimat dari buku "Anak juga Manusia" yang intinya: sebetulnya saat kita anak-anak, kita sedang mempelajari cara memperlakukan ortu kita kelak, dari cara mereka mendidik kita. Nah, bila kita tidak "melek" akan ilmu agama (terutama bab bhakti terhadap orang tua) dan ilmu ke-parenting-an..maka biasanya pola didik (yang salah sekalipun) cenderung terulang kembali. Termasuk saat kita memperlakukan orang tua.
Ketika orang tua kita menjadi "childish", maka secara tidak langsung kita pun sedang Allah uji menjadi sesosok orangtua. Bila kita tidak melek ilmu, maka akan terjadi -episode pembalasan-. Saat orang tua butuh kita, kita cuma cukup mengganti dengan materi. Saat orang tua membutuhkan kita, kita selalu dalam kondisi sibuk. Saat orang tua menuntut sesuatu dari kita, kita cukup meminta mereka untuk memahami kondisi kita, dsb. Meskipun perlakuan ini terjadi karena duplikasi dari apa yang kita dapatkan dari orang tua kita dahulu. Dalam beramal, selalu ada pilihan paling mulia, dari segala alternatif pilihan yang ada.
Yaa Rabb, semoga Engkau menjadikan kami sebagai anak yang senantiasa berbhakti dan memuliakan orang tua hingga akhir hayat mereka. Terlepas bagaimana perlakuan mereka terhadap kami. Dan semoga kami mampu menjadi orang tua yang shaleh bagi putera/ puteri kami kelak.. Berusaha memberikan segala yang terbaik..
"Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangiku sejak kecil..."
Allohumma Aamiin..
Parenting? Penting!
"Parenting? Penting! "
Ada peristiwa-peristiwa MENARIK, yang kadang membuat nalar kita terstimulus utk brpikir.. Hati kita tergugah utk bisa 'sedikit' peduli.. Berputar-putar dgn sederet pertanyaan. Mencoba mncari jawaban.. Kemudian menata jawaban itu mnjadi sebuah kesimpulan. Kesimpulan smntara yg mgkn blm tntu mjadi kebenaran.. Namun, bsa pula mnjadi setitik pencerahan.
Saya baru teringatkan kembali, oleh kalimat "Jangan merasa cukup hanya menjadi orang BAIK, tapi juga harus menjadi orang yang ber-ILMU.." (dan tentu saja beriman..). Kalimat ini bisa saya sambungkan dgn suatu peristiwa yg menurut saya "menarik" tadi. Yup, saya sudah "bertemu" dgn peristiwa menarik terkait parenting.
Kita semua, pasti tidak akan menyangkal bahwa teladan adalah bahasa yang paling efektif. Namun, perlu kita ingat juga..bahwa keteladanan pun butuh penjelasan, butuh arahan, butuh pemahaman. Apalagi terhadap anak kecil, amat penting bagi orang tua untuk menjelaskan alasan dari setiap tindakan.
Beberapa kali saya menemukan kasus serupa. Keteladanan tnpa dipahamkan. Atau, semacam kebaikan yang tidak "diwariskan". Suatu perbuatan baik, yang sudah dilakukan oleh orang tua..namun tidak ditransformasikan kepada anak-anaknya. Walhasil, keluarga seperti ini cenderung akan seragam kondisinya. Pihak orang tua akan lebih sering menjadi "pemeran utama". Sedangkan anak-anak, hnya figuran yg tersisihkan.
Bisa jadi atas dasar sayang, bisa jadi atas dasar tidak tega, bisa saja karena orang tua merasa "masih kuat dan masih bisa", dsb. Misalnya: orang tua rajin shalat, tapi anaknya tak dibangunkn shalat shubuh, karena khawatir istrhat sang anak trganggu. Atau, sang ortu amat exist, bnyak peran dan kntribusinya. Tapi di sisi lain, lupa utk mengajarkan anaknya percaya diri..bahkan sekedar menyambut tamu yang datang ke rumah. Seorang ibu yg jago masak dan menata rumah, namun tdak mberikan ksmpatan bgi anaknya utk memiliki ktrampilan yg sama. Yang ada, sang ibu lbh memlih sibuk sndiri dripda dibantu, karena khawatir hasilnya tak sesuai harapan. (sebab, ortu kadang menuntut kesempurnaan dari anaknya..)
Contoh di atas, hnya secuil dari kenyataan di lapangan. Hal-hal seperti inilah yang dinamakan "kebaikan yang menjerumuskan." Orang tua sibuk berbuat kebaikan, namun lupa memberikan anak-anaknya sebuah pendidikan. Jadi, yg ingin saya tekankan disini adalah: "saat orang tua baik, anaknya belum tentu baik juga." Ortu2 tsb memang baik, namun bisa jadi blum cukup ilmu. Yup, bisa saja orang tua berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama banyak..namun tnyata belum pnya ckup ilmu perihal mendidik anak-anak mereka. Istilah kerennya, ilmu parenting.
Bagi saya sbgai umat Islam, akan cnderung memilih islamic parenting. Artinya, keilmuan parenting umum n kontemporer yang menjadi padu dgn ilmu keislaman. Sebab, syariat Islam itu justru sbgai "induk" dari setiap ilmu. Ilmu masa kini hnyalah hsil pengembangan. Inti dan awal dari islamic parenting sndiri adalah menanamkan AQIDAH kepada anak-anak kita. Buatlah anak-anak paham bahwa Allah segalanya. Bahkan cinta Allah itu lebih besar daripda cinta orang tua kepada anaknya. Tanamkan rasa cinta n rasa takut yang karenaNya..
Anak-anak itu butuh dididik, dipahamkan. Iman saja tidak bisa "sekonyong-konyong" diwariskan..begitupun dengan kebaikan. Sebab, ada suatu proses didalamnya. Anak nabi Nuh, anak nabi Luth..apakah merka otomatis mewarisi keimanan ayahnya? No! Namun, utk kasus ini..para nabi trsbut bkan tdk bisa mendidik anak..sebab upaya maksimal pun telah mreka lakukan. Krna anak para nabi tersebut telah dewasa, maka kasus ini masuk pada ranah "pilihan hidup".
So, ternyata menjadi orang tua yang baik (untuk diri sendiri) saja tidak cukup.. Jadilah orang tua yang mampu mentransfer kebaikan itu kepada anak-anak kita, dengan mendidik mereka juga. Bila kebingungan bagaimana caranya, tandanya ilmu kita yang memang masih harus di up-grade.. Gali dan pelajari kembali ilmu tentang pengasuhan anak, PARENTING..agar keteladan kita tak tersia dan menghasilkan jejak nyata.
"Janganlah engkau meninggalkan GENERASI yang LEMAH di belakangmu."
*semoga bermanfaat
Ada peristiwa-peristiwa MENARIK, yang kadang membuat nalar kita terstimulus utk brpikir.. Hati kita tergugah utk bisa 'sedikit' peduli.. Berputar-putar dgn sederet pertanyaan. Mencoba mncari jawaban.. Kemudian menata jawaban itu mnjadi sebuah kesimpulan. Kesimpulan smntara yg mgkn blm tntu mjadi kebenaran.. Namun, bsa pula mnjadi setitik pencerahan.
Saya baru teringatkan kembali, oleh kalimat "Jangan merasa cukup hanya menjadi orang BAIK, tapi juga harus menjadi orang yang ber-ILMU.." (dan tentu saja beriman..). Kalimat ini bisa saya sambungkan dgn suatu peristiwa yg menurut saya "menarik" tadi. Yup, saya sudah "bertemu" dgn peristiwa menarik terkait parenting.
Kita semua, pasti tidak akan menyangkal bahwa teladan adalah bahasa yang paling efektif. Namun, perlu kita ingat juga..bahwa keteladanan pun butuh penjelasan, butuh arahan, butuh pemahaman. Apalagi terhadap anak kecil, amat penting bagi orang tua untuk menjelaskan alasan dari setiap tindakan.
Beberapa kali saya menemukan kasus serupa. Keteladanan tnpa dipahamkan. Atau, semacam kebaikan yang tidak "diwariskan". Suatu perbuatan baik, yang sudah dilakukan oleh orang tua..namun tidak ditransformasikan kepada anak-anaknya. Walhasil, keluarga seperti ini cenderung akan seragam kondisinya. Pihak orang tua akan lebih sering menjadi "pemeran utama". Sedangkan anak-anak, hnya figuran yg tersisihkan.
Bisa jadi atas dasar sayang, bisa jadi atas dasar tidak tega, bisa saja karena orang tua merasa "masih kuat dan masih bisa", dsb. Misalnya: orang tua rajin shalat, tapi anaknya tak dibangunkn shalat shubuh, karena khawatir istrhat sang anak trganggu. Atau, sang ortu amat exist, bnyak peran dan kntribusinya. Tapi di sisi lain, lupa utk mengajarkan anaknya percaya diri..bahkan sekedar menyambut tamu yang datang ke rumah. Seorang ibu yg jago masak dan menata rumah, namun tdak mberikan ksmpatan bgi anaknya utk memiliki ktrampilan yg sama. Yang ada, sang ibu lbh memlih sibuk sndiri dripda dibantu, karena khawatir hasilnya tak sesuai harapan. (sebab, ortu kadang menuntut kesempurnaan dari anaknya..)
Contoh di atas, hnya secuil dari kenyataan di lapangan. Hal-hal seperti inilah yang dinamakan "kebaikan yang menjerumuskan." Orang tua sibuk berbuat kebaikan, namun lupa memberikan anak-anaknya sebuah pendidikan. Jadi, yg ingin saya tekankan disini adalah: "saat orang tua baik, anaknya belum tentu baik juga." Ortu2 tsb memang baik, namun bisa jadi blum cukup ilmu. Yup, bisa saja orang tua berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama banyak..namun tnyata belum pnya ckup ilmu perihal mendidik anak-anak mereka. Istilah kerennya, ilmu parenting.
Bagi saya sbgai umat Islam, akan cnderung memilih islamic parenting. Artinya, keilmuan parenting umum n kontemporer yang menjadi padu dgn ilmu keislaman. Sebab, syariat Islam itu justru sbgai "induk" dari setiap ilmu. Ilmu masa kini hnyalah hsil pengembangan. Inti dan awal dari islamic parenting sndiri adalah menanamkan AQIDAH kepada anak-anak kita. Buatlah anak-anak paham bahwa Allah segalanya. Bahkan cinta Allah itu lebih besar daripda cinta orang tua kepada anaknya. Tanamkan rasa cinta n rasa takut yang karenaNya..
Anak-anak itu butuh dididik, dipahamkan. Iman saja tidak bisa "sekonyong-konyong" diwariskan..begitupun dengan kebaikan. Sebab, ada suatu proses didalamnya. Anak nabi Nuh, anak nabi Luth..apakah merka otomatis mewarisi keimanan ayahnya? No! Namun, utk kasus ini..para nabi trsbut bkan tdk bisa mendidik anak..sebab upaya maksimal pun telah mreka lakukan. Krna anak para nabi tersebut telah dewasa, maka kasus ini masuk pada ranah "pilihan hidup".
So, ternyata menjadi orang tua yang baik (untuk diri sendiri) saja tidak cukup.. Jadilah orang tua yang mampu mentransfer kebaikan itu kepada anak-anak kita, dengan mendidik mereka juga. Bila kebingungan bagaimana caranya, tandanya ilmu kita yang memang masih harus di up-grade.. Gali dan pelajari kembali ilmu tentang pengasuhan anak, PARENTING..agar keteladan kita tak tersia dan menghasilkan jejak nyata.
"Janganlah engkau meninggalkan GENERASI yang LEMAH di belakangmu."
*semoga bermanfaat
Kamis, 18 September 2014
Dagelan di Hari KARTINI
Bismillah..
Dagelan di Hari KARTINI
Kemarin malam, saya sempat menyaksikan beberapa sesi dari suatu acara humor di televisi. Karena kemarin bertepatan dengan peringatan “Hari Kartini”, maka acara tersebut mengangkat tema seputar perempuan. Tema yang diperbincangkan memang cukup seru, yakni: wanita karier VS ibu rumah tangga.
Lucu, seru mendengar celotehan-celotehan para narasumber yang jago ber-pandir ria. Namun, meski penuh canda-tawa bahasan mereka tetap jelas arahannya. Semakin saya coba tangkap isi dari pendapat para narasumber, semakin miris juga saya dibuatnya. Pihak narasumber pria, memang diposisikan sebagai kubu yang pro dengan “perempuan menjadi ibu rumah tangga”. Sedangkan pihak narasumber perempuan begitu bersikukuh bahwa para wanita itu harus diberikan “kebebasan untuk berekspresi”, termasuk dengan bekerja di luar rumah.
Lho? Ini kan settingan? Jawabannya mungkin settingan juga? Ya, settingan di konsep acaranya. Akan tetapi, -si empunya acara- tetap mampu mengkondisikan agar jawaban narasumber sesuai dengan pandangan dan pemahaman mereka masing-masing. Saat itu pun terlihat beberapa narasumber yang terpancing sisi emosionalnya.. (padahal ini acara “santai” penuh tawa, hehe)
Ada yang mengatakan bahwa saat perempuan hanya berada di rumah dan menjadi ibu rumah tangga saja, maka ini adalah suatu kemunduran. Ada yang mengatakan bahwa “membuatkan kopi” untuk suami adalah hal simple yang menunjukkan bahwa suami adalah pihak yang manja dan berkuasa. Ada yang mengatakan bahwa ketika perempuan diminta tidak bekerja oleh suaminya, maka itu petanda sang suami sedang iri pada istrinya. Ada yang mengatakan bahwa suami yang pro istrinya hanya menjadi IRT disebabkan karena pria hanya memikirkan kebutuhan dari -perut dan bawah perut- sehingga membatasi lingkup peran istri. Ada yang mengatakan bahwa saat istri sibuk bekerja karena itu adalah tanda sayang pada anaknya, untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya, dsb.
Saya malah salut dengan pihak narasumber pria, diantara mereka bahkan ada yang memikirkan jauh ke depan tentang masa depan anak. Ada yang memaparkan bahwa kebutuhan anak itu bukanlah hanya sekedar MATERI, namun perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Ada pula yang berpendapat bahwa “saya lebih senang melihat KELUARGA SUKSES, daripada istri dengan karier yang sukses.” Ada yang mengatakan bahwa bila orang tua sibuk, maka berawal lah masalah-masalah di keluarga.
See, ternyata inilah yang di maksud dengan –menghayati- semangat KARTINI. Saya kembali berpikir, bila hari KARTINI hanya membuat peran seorang ibu menjadi absurd, maka lebih baik dihapuskan saja. Ternyata kaum perempuan sudah “gagal paham” tentang makna emansipasi. Emansipasi sejatinya bukan berarti menuntut kesamaan kewajiban, sebab semua ada “ranahnya.” Lebih baik anti mainstream untuk segala sesuatu yang diragukan kebenarannya.
Wahai para perempuan, syukurilah terlebih dahulu dengan terlahirnya kau sebagai PEREMPUAN. Pahamilah sisi kodrati seorang perempuan. Perempuan merupakan mahluk indah yang Allah ciptakan dengan berbagai potensi kemuliaan, termasuk dengan peran sebagai seorang IBU. Ibu yang menjadi –sekolah pertama- bagi anak-anaknya. Seorang istri dan ibu yang shaliha dan penuh kasih sayang.
“Hidup adalah pilihan”, mungkin ada yang melihat masalah ini dengan konteks pernyataan tersebut. Kita juga memilih sesuatu sesuai dengan believe-value-knowledge serta kemampuan yang kita miliki. Namun, kita juga harus sadari dan pahami bahwa diantara alternatif pilihan yang bisa kita ambil, selalu terdapat PILIHAN yang paling UTAMA. Mengapa? karena –pilihan- tersebut lebih memiliki banyak KEUTAMAAN PAHALA dari Allah, Swt. Inshaa Allah..
Dagelan di Hari KARTINI
Kemarin malam, saya sempat menyaksikan beberapa sesi dari suatu acara humor di televisi. Karena kemarin bertepatan dengan peringatan “Hari Kartini”, maka acara tersebut mengangkat tema seputar perempuan. Tema yang diperbincangkan memang cukup seru, yakni: wanita karier VS ibu rumah tangga.
Lucu, seru mendengar celotehan-celotehan para narasumber yang jago ber-pandir ria. Namun, meski penuh canda-tawa bahasan mereka tetap jelas arahannya. Semakin saya coba tangkap isi dari pendapat para narasumber, semakin miris juga saya dibuatnya. Pihak narasumber pria, memang diposisikan sebagai kubu yang pro dengan “perempuan menjadi ibu rumah tangga”. Sedangkan pihak narasumber perempuan begitu bersikukuh bahwa para wanita itu harus diberikan “kebebasan untuk berekspresi”, termasuk dengan bekerja di luar rumah.
Lho? Ini kan settingan? Jawabannya mungkin settingan juga? Ya, settingan di konsep acaranya. Akan tetapi, -si empunya acara- tetap mampu mengkondisikan agar jawaban narasumber sesuai dengan pandangan dan pemahaman mereka masing-masing. Saat itu pun terlihat beberapa narasumber yang terpancing sisi emosionalnya.. (padahal ini acara “santai” penuh tawa, hehe)
Ada yang mengatakan bahwa saat perempuan hanya berada di rumah dan menjadi ibu rumah tangga saja, maka ini adalah suatu kemunduran. Ada yang mengatakan bahwa “membuatkan kopi” untuk suami adalah hal simple yang menunjukkan bahwa suami adalah pihak yang manja dan berkuasa. Ada yang mengatakan bahwa ketika perempuan diminta tidak bekerja oleh suaminya, maka itu petanda sang suami sedang iri pada istrinya. Ada yang mengatakan bahwa suami yang pro istrinya hanya menjadi IRT disebabkan karena pria hanya memikirkan kebutuhan dari -perut dan bawah perut- sehingga membatasi lingkup peran istri. Ada yang mengatakan bahwa saat istri sibuk bekerja karena itu adalah tanda sayang pada anaknya, untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya, dsb.
Saya malah salut dengan pihak narasumber pria, diantara mereka bahkan ada yang memikirkan jauh ke depan tentang masa depan anak. Ada yang memaparkan bahwa kebutuhan anak itu bukanlah hanya sekedar MATERI, namun perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Ada pula yang berpendapat bahwa “saya lebih senang melihat KELUARGA SUKSES, daripada istri dengan karier yang sukses.” Ada yang mengatakan bahwa bila orang tua sibuk, maka berawal lah masalah-masalah di keluarga.
See, ternyata inilah yang di maksud dengan –menghayati- semangat KARTINI. Saya kembali berpikir, bila hari KARTINI hanya membuat peran seorang ibu menjadi absurd, maka lebih baik dihapuskan saja. Ternyata kaum perempuan sudah “gagal paham” tentang makna emansipasi. Emansipasi sejatinya bukan berarti menuntut kesamaan kewajiban, sebab semua ada “ranahnya.” Lebih baik anti mainstream untuk segala sesuatu yang diragukan kebenarannya.
Wahai para perempuan, syukurilah terlebih dahulu dengan terlahirnya kau sebagai PEREMPUAN. Pahamilah sisi kodrati seorang perempuan. Perempuan merupakan mahluk indah yang Allah ciptakan dengan berbagai potensi kemuliaan, termasuk dengan peran sebagai seorang IBU. Ibu yang menjadi –sekolah pertama- bagi anak-anaknya. Seorang istri dan ibu yang shaliha dan penuh kasih sayang.
“Hidup adalah pilihan”, mungkin ada yang melihat masalah ini dengan konteks pernyataan tersebut. Kita juga memilih sesuatu sesuai dengan believe-value-knowledge serta kemampuan yang kita miliki. Namun, kita juga harus sadari dan pahami bahwa diantara alternatif pilihan yang bisa kita ambil, selalu terdapat PILIHAN yang paling UTAMA. Mengapa? karena –pilihan- tersebut lebih memiliki banyak KEUTAMAAN PAHALA dari Allah, Swt. Inshaa Allah..
Pendidik
Bismillah..
Pendidik
Siapakah pendidik itu? Mungkin diantara Anda ada yang menjawab guru? Orang tua? Dosen? Ya, jawaban tersebut memang tidak ada yang salah. Namun, menurut saya yang dikatakan sebagai pendidik itu adalah mereka yang mampu memberikan edukasi kepada orang-orang di sekitarnya. Bagi saya, “pendidik” itu masuk ke dalam ranah sifat atau jiwa, tidak selalu sebagai profesi.
Ada yang berprofesi sebagai pendidik, namun pada kenyataannya yang dia lakukan hanyalah proses –pengajaran-. Jadi, sebenarnya ia bukan pendidik, namun pengajar. Pengajar itu hanya memposisikan diri sebagai pihak yang sekedar mentransfer ilmu yang ia miliki kepada muridnya. Betul-betul sekedar melakukan pekerjaan dengan niat menggugurkan kewajiban semata. Tidak ada proses bimbingan, pengarahan, pemahaman yang benar, dsb. Begitu pula dengan mereka yang memiliki predikat sebagai “orang tua”, apa sudah menjadi sosok pendidik bagi anak-anaknya? Bahkan sering ditemui bahwa orang tua hanya sekedar menjadi “mesin pencari nafkah”, sedangkan sang anak dititipkan pada baby sitter atau asisten rumah tangga. Betulkah begitu?
Dengan demikian, pendidik itu adalah JIWA,segenggam jiwa yang tergerak karena KEPEDULIAN. Peduli adalah kinerja hati. Inilah yang menjadi pembeda dasar antara pendidik dengan pengajar, karena pendidik itu selalu menggunakan HATI.
Saya dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai jiwa pendidik. Mereka bukanlah seorang guru, dosen, dsb. Tidak mempunyai background yang “nyambung” dengan pendidikan. Namun, mereka adalah orang-orang yang memiliki concern pada hal-hal tertentu yang menurut mereka penting untuk diedukasikan kepada banyak orang. Sehingga mereka peduli dan tergerak untuk “berbagi”. Tidak hanya sekedar berbagi wawasan akan tetapi KEYAKINAN. Sebab, keyakinanlah yang akan membuat seseorang total beramal lalu terjadilah suatu PERUBAHAN.
Meskipun demikian, bukan berarti sudah minimnya guru atau dosen yang berperan sebagai pendidik. Saya yang seorang guru pun, masih mendapatkan kawan-kawan yang amat total dalam menjalankan tugas mulianya sebagai seorang guru. Dan merekalah guru-guru idaman, pencetak generasi JUARA di masa depan. Inshaa Allah. (Guru idaman, guru sejati diantaranya adalah sosok yang menjadi picture artikel ini)
Semoga kita mampu menghidupkan qalbu ini dengan keimanan, melembutkan jiwa ini dengan kepedulian. Sehingga mampu pendidik sejati yang selalu menyertakan HATI dalam setiap amal-gerak kita. Allohumma Aamiin..
Pendidik
Siapakah pendidik itu? Mungkin diantara Anda ada yang menjawab guru? Orang tua? Dosen? Ya, jawaban tersebut memang tidak ada yang salah. Namun, menurut saya yang dikatakan sebagai pendidik itu adalah mereka yang mampu memberikan edukasi kepada orang-orang di sekitarnya. Bagi saya, “pendidik” itu masuk ke dalam ranah sifat atau jiwa, tidak selalu sebagai profesi.
Ada yang berprofesi sebagai pendidik, namun pada kenyataannya yang dia lakukan hanyalah proses –pengajaran-. Jadi, sebenarnya ia bukan pendidik, namun pengajar. Pengajar itu hanya memposisikan diri sebagai pihak yang sekedar mentransfer ilmu yang ia miliki kepada muridnya. Betul-betul sekedar melakukan pekerjaan dengan niat menggugurkan kewajiban semata. Tidak ada proses bimbingan, pengarahan, pemahaman yang benar, dsb. Begitu pula dengan mereka yang memiliki predikat sebagai “orang tua”, apa sudah menjadi sosok pendidik bagi anak-anaknya? Bahkan sering ditemui bahwa orang tua hanya sekedar menjadi “mesin pencari nafkah”, sedangkan sang anak dititipkan pada baby sitter atau asisten rumah tangga. Betulkah begitu?
Dengan demikian, pendidik itu adalah JIWA,segenggam jiwa yang tergerak karena KEPEDULIAN. Peduli adalah kinerja hati. Inilah yang menjadi pembeda dasar antara pendidik dengan pengajar, karena pendidik itu selalu menggunakan HATI.
Saya dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai jiwa pendidik. Mereka bukanlah seorang guru, dosen, dsb. Tidak mempunyai background yang “nyambung” dengan pendidikan. Namun, mereka adalah orang-orang yang memiliki concern pada hal-hal tertentu yang menurut mereka penting untuk diedukasikan kepada banyak orang. Sehingga mereka peduli dan tergerak untuk “berbagi”. Tidak hanya sekedar berbagi wawasan akan tetapi KEYAKINAN. Sebab, keyakinanlah yang akan membuat seseorang total beramal lalu terjadilah suatu PERUBAHAN.
Meskipun demikian, bukan berarti sudah minimnya guru atau dosen yang berperan sebagai pendidik. Saya yang seorang guru pun, masih mendapatkan kawan-kawan yang amat total dalam menjalankan tugas mulianya sebagai seorang guru. Dan merekalah guru-guru idaman, pencetak generasi JUARA di masa depan. Inshaa Allah. (Guru idaman, guru sejati diantaranya adalah sosok yang menjadi picture artikel ini)
Semoga kita mampu menghidupkan qalbu ini dengan keimanan, melembutkan jiwa ini dengan kepedulian. Sehingga mampu pendidik sejati yang selalu menyertakan HATI dalam setiap amal-gerak kita. Allohumma Aamiin..
Tri-Tunggal (3 IBU)
Tri-Tunggal (3 IBU)
Ibu adalah malaikat yang Allah kirimkan kepada setiap manusia. Malaikat? Ya, manusia berhati malaikat. Jasanya terlampau besar. Aku tak akan pernah bisa membalasnya, tak akan pernah terbalas. Aku sangat menyadari hal ini sepenuh hati. Meski demikian, mengapa terkadang Aku masih saja membuat ibuku sedih. Padahal, Aku juga meyadari bahwa hati ibunda terlalu mulia untuk merasakan kekecewaan dari anaknya. Yaa Allah, ampunilah kami..
Bila berbicara sosok ibu, maka yang muncul di benakku adalah 3 sosok yang berbeda, yaitu: mama, abu dan ibu. Mama adalah panggilan untuk almarhumah ibu kandungku, abu adalah panggilan untuk nenekku sedangkan ibu adalah panggilan untuk ibu tiriku. Ketika masa sekolah, aku sempat mengikuti suatu kegiatan religi. Kemudian saat masuk ke sesi muhasabah, para peserta diminta untuk membayangkan sosok ibu masing-masing. Tahukah? Bahwa ketika itu pikiranku “blank”. Mengapa? Sebab aku bingung memunculkan sosok yang mana. Mama, Abu dan Ibu adalah sosok yang berbeda namun mempunyai ruang yang sama di hatiku. Bagiku, mereka adalah Tri-tunggal, tiga sosok berbeda yang mempunyai satu makna dalam hatiku, yakni seorang IBU.
Mama:
Mama meninggalkanku saat aku masih berusia 5 tahun. Beliau wafat karena kanker payudara yang menggeroti tubuhnya. Tidak terlalu banyak ingatanku tentang beliau. Seumur hidup saja, aku bisa bermimpi untuk bertemu dengannya hanya 2 kali. Hal yang aku ingat dari sosok mama adalah beliau ibu yang amat hangat dan perhatian terhadap anak-anaknya. Mama sangat senang “mendandani” puteri-puterinya, mengajak jalan-jalan ke arena bermain, menjahitkan pakaian (sekaligus pakaian bonekaku), bercerita sebelum aku tidur, humoris, dsb.
Sebetulnya, setelah mengetahui ada genjala kanker payudara, dokter menyarankan agar mama tidak memiliki anak kembali (karena riskan). Akan tetapi, harapan orang tuaku untuk mempunyai anak laki-laki amatlah besar. Sehingga, mama dan papaku tetap berikhtiar untuk mempunyai momongan. Alhamdulillah, pada akhirnya harapan orang tuaku terwujud. Aku dikaruniai seorang adik laki-laki, orang tuaku pun amat bersyukur.
Di antara kebahagiaan yang dirasakan, ternyata perlahan kondisi mama semakin menurun. Aku yang kala itu sedang semangat sekolah (TK) hanya ingin diantar mama saja. Jadi, ketika mama mulai tak berdaya, aku pun merasa kehilangan dan enggan pergi ke sekolah. Mama sempat mengajak anak-anaknya untuk menonton film layar lebar “Ratapan Anak Tiri”. Saya sih memang belum terlalu paham jalan ceritanya, namun sedikit bisa menangkap pesan. Mama juga terkadang tiba-tiba berkata: “Kalau mama sudah gak ada, chika nanti sama Abu yaa..” otomatis aku bilang –tidak mau-, karena dipikiranku, aku hanya ingin bersama mama saja.
Kondisi mama semakin kritis, selalu pulang-pergi rumah sakit. Bila saatnya pulang ke rumah, itu pun hanya sebentar saja, kemudian dilarikan kembali ke rumah sakit. Dari kondisi itu, aku memang sudah mulai merasa “jauh” dengan mama. Jauh, namun aku sangat rindu..rindu untuk berkumpul bersama kembali. Hingga pada akhirnya, Desember 1992 Allah memanggil mama, Allah lebih sayang kepada mama. Mulai saat itu pula, aku belajar mengaji dan konsisten melakukan shalat. Kata orang-orang, biar aku bisa “kirim doa” pada mama. Aku dinasihati untuk menjadi anak baik, shaliha.
Abu:
Sesuai dengan pesan dari almarhumah mama, bahwa sepeninggal beliau, aku dan saudara-saudaraku akan tinggal bersama nenek-kakekku. Mungkin ada yang bertanya: emangnya, ayahku kemana? Ternyata ayahku harus melanjutkan kembali studinya ke luar negeri. Kata nenek sih, daripada kami tinggal di suatu pesantren(mneurut nenek), lebih baik kami tinggal bersama mereka. Ya, dan akhirnya semua terjadi. Semua awalan, pasti butuh pembiasaan. Namun, lambat laun aku dan saudaraku pun menjadi terbiasa, sehingga menganggap nenek seperti ibu kami sendiri.
Subhanallah, Abu adalah wanita yang amat tangguh. Terbayangkah? Anak Abu saja sudah tujuh. Lalu, ditambah mengasuh kami dengan penuh dedikasi. Salah satu hal yang tidak bisa ku lupa adalah, Abu mau menemaniku sekolah di dalam kelas, kurang lebih selama satu bulan. Ya, waktu kecil aku memang anak yang cukup manja dan sulit bersosialisasi.
Soal “jasa” beliau, nampaknya tak terhingga banyaknya. Namun, hal yang harus selalu aku syukuri adalah, berkat beliau pula aku jadi lebih mengenal “dien-ku” sedari kecil. Aku bersyukur telah diajarkan mengaji sejak usia pra-sekolah. Aku mengenal bacaan shalat dan surah-surah pendek dari beliau. Bisa dikatakan, beliau adalah orang yang paling berjasa dalam menanamkan aqidah islamiyah kepadaku.
Dari Abu, aku belajar tentang keshabaran, ketangguhan, pengorbanan dan ketulusan (cinta tanpa syarat). Bila aku merasa mempunyai kesalahan, alhamdulillah aku selalu meminta maaf kepada beliau. Namun, apa yang beliau katakan? “Emang ada salah apa? Semua sudah dimaafkan..” Bila ada aku ada berbagai banyak aktivitas di luar rumah, beliau mengizinkan hanya dengan catatan: jangan lupa makan! Bila aku sakit, beliau amat telaten berupaya merawatku. Bila beliau tahu bahwa aku sedan mengerjakan tugas dari pekerjaanku, kadang beliau meng-handle “tugas rumah” yang seharusnya menjadi jatahku, alasannya: biar tidak mengganggu konsentrasi. Dan ketika hingga saat ini, aku belum dipertemukan dengan –jodohku-, beliau lah yang menitikkan air mata dalam doa tulusnya. Subhanallah.
Sekarang, Abu sudah berusia 78 tahun. Beliau masih bisa beraktivitas “lebih” dibanding nenek lain seusianya. Meski, memang sudah banyak keluhan tentang kondisi tubuh dan kesehatannya. Abu-ku tetap rajin mengaji, tahajud bila beliau mampu, shalat dhuha, terkadang membaca koran, masih bisa memasak dan diajak berdiskusi. Semoga Abu selalu diberikan keberkahan usia, Allohumma aamiin.
Ibu:
Ibu adalah sosok wanita modern dan independen. Ayahku bertemu beliau ketika sedang melanjutkan studi. Ayah sedang sekolah “doktoral” dan ibu sedang mengejar gelar “master.” Ya, ibuku berpendidikan tinggi. Beliau adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri di Depok. Aku dan orang tuaku, tidak dalam satu rumah. Sebab, hingga sekarang aku tetap tinggal bersama nenekku. Meski kondisi keluarga kami cukup unik, kami tetap mencoba selalu berkomunikasi. Apalagi sekarang teknologi pun sudah semakin canggih.
Jujur, aku sempat merasakan kekakuan dalam berinteraksi dengan beliau. Wajar sih, karena memang jarang berjumpa dan berinteraksi langsung. Tapi, in syaa Allah liburan Ramadhan-Idul Fitri adalah moment wajib berkumpul. Mencoba saling mengoptimalkan waktu senggang untuk lebih memahami satu sama lain. Intensitas pertemuan yang relatif jarang, sangat memungkinkan membuat kami kurang saling memahami karakter. Namun, in syaa Allah semakin kemari, semua anggota keluarga dapat berpikir lebih bijaksana.
Tahukah? Bahwa aku tidak mendapatkan saudara tiri dari beliau. Waktu dulu, aku hanya menganggap bahwa mungkin karena beliau sibuk dengan karier, sehingga khawatir kurang optimal bila mempunyai anak kecil. Namun, ternyata alasannya amat membuatku terharu sekaligus tertampar hati. Alasan beliau tidak memiliki anak kandung adalah: karena dahulu ingin menjaga “perasaan” kami yang masih kecil, padahal beliau bisa saja mempunyai anak dan (pasti di hati yang terdalam) ingin mempunyai anak kandung. Kemudian, waktu semakin berganti, ibu merasa usianya tidak muda lagi sehingga akan riskan bila mempunyai anak lagi. Akhirnya, hingga sekarang ibuku tidak memiliki anak kandung. Itu adalah bentuk pengorbanan besar seorang ibu tiri demi kami, anak-anak tirinya. Dan suatu bentuk pilihan hidup yang tidak beliau sesali. Subhanallah.
Ibu adalah sosok yang mengajarkan aku tentang indahnya kebersamaan (soliditas), berbagi/ peduli, tata-krama dan kemandirian. Keluarga besar beliau, memiliki sistem kekerabatan yang bagus. Secara berkala mereka selalu mengadakan family gathering sekedar untuk bersliaturahim. Ibu yang mengajarkanku agar lebih mandiri dalam hidup. Senantiasa mendorongku untuk bisa mengoptimalkan segala potensi yang ku miliki. Ibu mengajarkanku untuk bisa “mengurus rumah” dengan baik. Memberikan teladan tentang etika dan indahnya bisa berbagi dengan sesama. Ibu tidak segan-segan untuk memberi bila beliau memang merasa “ada” sesuatu yang bisa diberikan.
Aku bersyukur, bahwa dari ibu lah, Aku dapat memahami apa itu “integritas diri”, yakni adanya kesesuaian antara apa yang kita yakini, ucapkan dan lakukan. Aku pernah mengatakan, aku belum bisa berbhakti kepadanya. Tapi, ibu begitu bijaksana. Beliau menjelaskan bahwa dengan kondisi keluarga kami, biarlah doa tulus dari masing-masing yang menjadi pengikat hati-hati kami. Subhanallah.
Yaa Rabbana, ampunilah dosa kami juga orang tua kami. Hanya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi balasan. Berikanlah ibu kami keberkahan dan keselamatan dunia dan akhirat. Perhitungkanlah kemuliaan mereka. Hanya Jannah-MU yang layak untuk aku persembahkan. Semoga aku juga senantiasa menjadi ananda yang shaliha, sehingga doa-harapanku tentang Jannah itu, bisa Allah ijabah. Agar kami bisa bertemu kembali di sana.. Allohumma Aamiin.
Ibu adalah malaikat yang Allah kirimkan kepada setiap manusia. Malaikat? Ya, manusia berhati malaikat. Jasanya terlampau besar. Aku tak akan pernah bisa membalasnya, tak akan pernah terbalas. Aku sangat menyadari hal ini sepenuh hati. Meski demikian, mengapa terkadang Aku masih saja membuat ibuku sedih. Padahal, Aku juga meyadari bahwa hati ibunda terlalu mulia untuk merasakan kekecewaan dari anaknya. Yaa Allah, ampunilah kami..
Bila berbicara sosok ibu, maka yang muncul di benakku adalah 3 sosok yang berbeda, yaitu: mama, abu dan ibu. Mama adalah panggilan untuk almarhumah ibu kandungku, abu adalah panggilan untuk nenekku sedangkan ibu adalah panggilan untuk ibu tiriku. Ketika masa sekolah, aku sempat mengikuti suatu kegiatan religi. Kemudian saat masuk ke sesi muhasabah, para peserta diminta untuk membayangkan sosok ibu masing-masing. Tahukah? Bahwa ketika itu pikiranku “blank”. Mengapa? Sebab aku bingung memunculkan sosok yang mana. Mama, Abu dan Ibu adalah sosok yang berbeda namun mempunyai ruang yang sama di hatiku. Bagiku, mereka adalah Tri-tunggal, tiga sosok berbeda yang mempunyai satu makna dalam hatiku, yakni seorang IBU.
Mama:
Mama meninggalkanku saat aku masih berusia 5 tahun. Beliau wafat karena kanker payudara yang menggeroti tubuhnya. Tidak terlalu banyak ingatanku tentang beliau. Seumur hidup saja, aku bisa bermimpi untuk bertemu dengannya hanya 2 kali. Hal yang aku ingat dari sosok mama adalah beliau ibu yang amat hangat dan perhatian terhadap anak-anaknya. Mama sangat senang “mendandani” puteri-puterinya, mengajak jalan-jalan ke arena bermain, menjahitkan pakaian (sekaligus pakaian bonekaku), bercerita sebelum aku tidur, humoris, dsb.
Sebetulnya, setelah mengetahui ada genjala kanker payudara, dokter menyarankan agar mama tidak memiliki anak kembali (karena riskan). Akan tetapi, harapan orang tuaku untuk mempunyai anak laki-laki amatlah besar. Sehingga, mama dan papaku tetap berikhtiar untuk mempunyai momongan. Alhamdulillah, pada akhirnya harapan orang tuaku terwujud. Aku dikaruniai seorang adik laki-laki, orang tuaku pun amat bersyukur.
Di antara kebahagiaan yang dirasakan, ternyata perlahan kondisi mama semakin menurun. Aku yang kala itu sedang semangat sekolah (TK) hanya ingin diantar mama saja. Jadi, ketika mama mulai tak berdaya, aku pun merasa kehilangan dan enggan pergi ke sekolah. Mama sempat mengajak anak-anaknya untuk menonton film layar lebar “Ratapan Anak Tiri”. Saya sih memang belum terlalu paham jalan ceritanya, namun sedikit bisa menangkap pesan. Mama juga terkadang tiba-tiba berkata: “Kalau mama sudah gak ada, chika nanti sama Abu yaa..” otomatis aku bilang –tidak mau-, karena dipikiranku, aku hanya ingin bersama mama saja.
Kondisi mama semakin kritis, selalu pulang-pergi rumah sakit. Bila saatnya pulang ke rumah, itu pun hanya sebentar saja, kemudian dilarikan kembali ke rumah sakit. Dari kondisi itu, aku memang sudah mulai merasa “jauh” dengan mama. Jauh, namun aku sangat rindu..rindu untuk berkumpul bersama kembali. Hingga pada akhirnya, Desember 1992 Allah memanggil mama, Allah lebih sayang kepada mama. Mulai saat itu pula, aku belajar mengaji dan konsisten melakukan shalat. Kata orang-orang, biar aku bisa “kirim doa” pada mama. Aku dinasihati untuk menjadi anak baik, shaliha.
Abu:
Sesuai dengan pesan dari almarhumah mama, bahwa sepeninggal beliau, aku dan saudara-saudaraku akan tinggal bersama nenek-kakekku. Mungkin ada yang bertanya: emangnya, ayahku kemana? Ternyata ayahku harus melanjutkan kembali studinya ke luar negeri. Kata nenek sih, daripada kami tinggal di suatu pesantren(mneurut nenek), lebih baik kami tinggal bersama mereka. Ya, dan akhirnya semua terjadi. Semua awalan, pasti butuh pembiasaan. Namun, lambat laun aku dan saudaraku pun menjadi terbiasa, sehingga menganggap nenek seperti ibu kami sendiri.
Subhanallah, Abu adalah wanita yang amat tangguh. Terbayangkah? Anak Abu saja sudah tujuh. Lalu, ditambah mengasuh kami dengan penuh dedikasi. Salah satu hal yang tidak bisa ku lupa adalah, Abu mau menemaniku sekolah di dalam kelas, kurang lebih selama satu bulan. Ya, waktu kecil aku memang anak yang cukup manja dan sulit bersosialisasi.
Soal “jasa” beliau, nampaknya tak terhingga banyaknya. Namun, hal yang harus selalu aku syukuri adalah, berkat beliau pula aku jadi lebih mengenal “dien-ku” sedari kecil. Aku bersyukur telah diajarkan mengaji sejak usia pra-sekolah. Aku mengenal bacaan shalat dan surah-surah pendek dari beliau. Bisa dikatakan, beliau adalah orang yang paling berjasa dalam menanamkan aqidah islamiyah kepadaku.
Dari Abu, aku belajar tentang keshabaran, ketangguhan, pengorbanan dan ketulusan (cinta tanpa syarat). Bila aku merasa mempunyai kesalahan, alhamdulillah aku selalu meminta maaf kepada beliau. Namun, apa yang beliau katakan? “Emang ada salah apa? Semua sudah dimaafkan..” Bila ada aku ada berbagai banyak aktivitas di luar rumah, beliau mengizinkan hanya dengan catatan: jangan lupa makan! Bila aku sakit, beliau amat telaten berupaya merawatku. Bila beliau tahu bahwa aku sedan mengerjakan tugas dari pekerjaanku, kadang beliau meng-handle “tugas rumah” yang seharusnya menjadi jatahku, alasannya: biar tidak mengganggu konsentrasi. Dan ketika hingga saat ini, aku belum dipertemukan dengan –jodohku-, beliau lah yang menitikkan air mata dalam doa tulusnya. Subhanallah.
Sekarang, Abu sudah berusia 78 tahun. Beliau masih bisa beraktivitas “lebih” dibanding nenek lain seusianya. Meski, memang sudah banyak keluhan tentang kondisi tubuh dan kesehatannya. Abu-ku tetap rajin mengaji, tahajud bila beliau mampu, shalat dhuha, terkadang membaca koran, masih bisa memasak dan diajak berdiskusi. Semoga Abu selalu diberikan keberkahan usia, Allohumma aamiin.
Ibu:
Ibu adalah sosok wanita modern dan independen. Ayahku bertemu beliau ketika sedang melanjutkan studi. Ayah sedang sekolah “doktoral” dan ibu sedang mengejar gelar “master.” Ya, ibuku berpendidikan tinggi. Beliau adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri di Depok. Aku dan orang tuaku, tidak dalam satu rumah. Sebab, hingga sekarang aku tetap tinggal bersama nenekku. Meski kondisi keluarga kami cukup unik, kami tetap mencoba selalu berkomunikasi. Apalagi sekarang teknologi pun sudah semakin canggih.
Jujur, aku sempat merasakan kekakuan dalam berinteraksi dengan beliau. Wajar sih, karena memang jarang berjumpa dan berinteraksi langsung. Tapi, in syaa Allah liburan Ramadhan-Idul Fitri adalah moment wajib berkumpul. Mencoba saling mengoptimalkan waktu senggang untuk lebih memahami satu sama lain. Intensitas pertemuan yang relatif jarang, sangat memungkinkan membuat kami kurang saling memahami karakter. Namun, in syaa Allah semakin kemari, semua anggota keluarga dapat berpikir lebih bijaksana.
Tahukah? Bahwa aku tidak mendapatkan saudara tiri dari beliau. Waktu dulu, aku hanya menganggap bahwa mungkin karena beliau sibuk dengan karier, sehingga khawatir kurang optimal bila mempunyai anak kecil. Namun, ternyata alasannya amat membuatku terharu sekaligus tertampar hati. Alasan beliau tidak memiliki anak kandung adalah: karena dahulu ingin menjaga “perasaan” kami yang masih kecil, padahal beliau bisa saja mempunyai anak dan (pasti di hati yang terdalam) ingin mempunyai anak kandung. Kemudian, waktu semakin berganti, ibu merasa usianya tidak muda lagi sehingga akan riskan bila mempunyai anak lagi. Akhirnya, hingga sekarang ibuku tidak memiliki anak kandung. Itu adalah bentuk pengorbanan besar seorang ibu tiri demi kami, anak-anak tirinya. Dan suatu bentuk pilihan hidup yang tidak beliau sesali. Subhanallah.
Ibu adalah sosok yang mengajarkan aku tentang indahnya kebersamaan (soliditas), berbagi/ peduli, tata-krama dan kemandirian. Keluarga besar beliau, memiliki sistem kekerabatan yang bagus. Secara berkala mereka selalu mengadakan family gathering sekedar untuk bersliaturahim. Ibu yang mengajarkanku agar lebih mandiri dalam hidup. Senantiasa mendorongku untuk bisa mengoptimalkan segala potensi yang ku miliki. Ibu mengajarkanku untuk bisa “mengurus rumah” dengan baik. Memberikan teladan tentang etika dan indahnya bisa berbagi dengan sesama. Ibu tidak segan-segan untuk memberi bila beliau memang merasa “ada” sesuatu yang bisa diberikan.
Aku bersyukur, bahwa dari ibu lah, Aku dapat memahami apa itu “integritas diri”, yakni adanya kesesuaian antara apa yang kita yakini, ucapkan dan lakukan. Aku pernah mengatakan, aku belum bisa berbhakti kepadanya. Tapi, ibu begitu bijaksana. Beliau menjelaskan bahwa dengan kondisi keluarga kami, biarlah doa tulus dari masing-masing yang menjadi pengikat hati-hati kami. Subhanallah.
Yaa Rabbana, ampunilah dosa kami juga orang tua kami. Hanya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi balasan. Berikanlah ibu kami keberkahan dan keselamatan dunia dan akhirat. Perhitungkanlah kemuliaan mereka. Hanya Jannah-MU yang layak untuk aku persembahkan. Semoga aku juga senantiasa menjadi ananda yang shaliha, sehingga doa-harapanku tentang Jannah itu, bisa Allah ijabah. Agar kami bisa bertemu kembali di sana.. Allohumma Aamiin.
"Bahagia di Angkot 05"
"Bahagia di Angkot 05"
Sebetulnya, apa yang saya ceritakan mungkin hal yg biasa saja. Namun, bagi saya..ini adalah kisah yang manis.. Tentang cinta yang sederhana.
Kemarin sore, saya menaiki angkot berkode "05" menuju rumah. Sebelum saya ambil posisi duduk, sang sopir trlihat memberikan anggukan kepala, petanda menghargai penumpang. Oow, tnyata saya adalah penumpang satu-satunya di dalam angkot tsb.
Setelah beberapa saat, saya mendengar sang sopir terlibat percakapan yang seru. Saya kira, beliau sedang berbicara dengan temannya yang sebaya. Eh ternyata, dia sedang ngobrol asyik bersama puteranya yang berusia skitar 5 tahunan.
** tidak semua ayah mampu menciptakan komunikasi yang baik-nyaman, dgn anaknya.
Sang anak sangat antusias bertanya seputar permainan -catur-. Sang ayah pun menjawab dengan penjelasan yang runut. Subhanallah, tidak ada 1 pun prtanyaan yang terlewat oleh sang ayah. Coba teman-teman bayangkan..rata-rata karakter sopir itu kayak gimana sih? Makanya, ini adalah pemandangan yang keren dan langka..
** saya salut, sang ayah ini benar-benar menunjukkan gestur, "bahasa tubuh" yg penuh perhatian thdap anaknya saat btanya. Anak akan betul-betul merasa dihargai..
Saat sang anak mulai bertanya sambil terbata-bata..sang ayah malah "menantang" anaknya utk segera mengingat apa pertanyaan yang ingin diajukan. Misal: "bapak, kalo..hm..hm..kalooo...hmm", sang ayah langsung menyahut "apa..kalo apa ayoo...". Sang anak pun selalu terlihat puas dengan jawaban ayahnya, seraya mengajukan pertanyaan2 baru.
** kebanyakan ortu kan malah "kesal" bila anaknya banyak bertanya. Namun, bapak ini mampu menanggapi prtanyaan anak dg -serius-, bahkan menantang pertanyaan baru.
Saat berhenti di depan sebuah hotel, sang ayah berkata: "Nak, ini tempat orang-orang kaya tidur.. Tuh lihat, mungkin skrg lagi ada hajatan." Sang anak pun kembali mengajukan pertanyaan. "Kenapa pak?", dst. *Dalam hati saya agak miris..
** meski sang ayah berbicara begitu, namun tidak ada kalimat penyerta yg berisikan info-info negatif, tdak memprovokasi, dsb..
1 hal lagi..sang sopir tidak mempertontonkan adegan "menghisap rokok." Bagi saya, ini adalah prestasi. Ayah yang bisa melawan dirinya sndiri utk tidak mendewakan si puntungan pembawa derita itu..
** ayah yang perokok itu, scara tak sadar n tak langsung..sedang membunuh anaknya secara perlahan.
Tahukah? Selama perjalanan, saya pun kerap mengembangkan senyuman.. Senang, melihat keakraban ayah-anak ini. Bahkan, saya betah berada di angkot itu..haha. Saya hafal pula nomor plat angkot tsb.. D 1915..
Sebelum saya turun dari angkot, saya mendengar si anak berkata: "Bapak, nanti makan ayam yaa.." Sang ayah pun tanpa ragu -mengiyakan- permintaan sang jagoannya itu. So..sweet...
Tahukah? Dari pengalaman ini, saya jadi yakin..bahwa salah 1 ungkapan cinta yang sederhana, adalah: dengan MENDENGARKAN. Semoga Allah senantiasa menjaga kehangatan keluarga tersebut. Sang anak menjadi anak yang shaleh dan berbhakti. Pun orangtuanya, menjadi sosok ayah yang bijaksana dan pembelajar. Semoga makin banyak pula sopir yang masih menjunjung tinggi etika dan ramah-tamah. In shaa Allah lebih barakah.. Aamiin.
Sebetulnya, apa yang saya ceritakan mungkin hal yg biasa saja. Namun, bagi saya..ini adalah kisah yang manis.. Tentang cinta yang sederhana.
Kemarin sore, saya menaiki angkot berkode "05" menuju rumah. Sebelum saya ambil posisi duduk, sang sopir trlihat memberikan anggukan kepala, petanda menghargai penumpang. Oow, tnyata saya adalah penumpang satu-satunya di dalam angkot tsb.
Setelah beberapa saat, saya mendengar sang sopir terlibat percakapan yang seru. Saya kira, beliau sedang berbicara dengan temannya yang sebaya. Eh ternyata, dia sedang ngobrol asyik bersama puteranya yang berusia skitar 5 tahunan.
** tidak semua ayah mampu menciptakan komunikasi yang baik-nyaman, dgn anaknya.
Sang anak sangat antusias bertanya seputar permainan -catur-. Sang ayah pun menjawab dengan penjelasan yang runut. Subhanallah, tidak ada 1 pun prtanyaan yang terlewat oleh sang ayah. Coba teman-teman bayangkan..rata-rata karakter sopir itu kayak gimana sih? Makanya, ini adalah pemandangan yang keren dan langka..
** saya salut, sang ayah ini benar-benar menunjukkan gestur, "bahasa tubuh" yg penuh perhatian thdap anaknya saat btanya. Anak akan betul-betul merasa dihargai..
Saat sang anak mulai bertanya sambil terbata-bata..sang ayah malah "menantang" anaknya utk segera mengingat apa pertanyaan yang ingin diajukan. Misal: "bapak, kalo..hm..hm..kalooo...hmm", sang ayah langsung menyahut "apa..kalo apa ayoo...". Sang anak pun selalu terlihat puas dengan jawaban ayahnya, seraya mengajukan pertanyaan2 baru.
** kebanyakan ortu kan malah "kesal" bila anaknya banyak bertanya. Namun, bapak ini mampu menanggapi prtanyaan anak dg -serius-, bahkan menantang pertanyaan baru.
Saat berhenti di depan sebuah hotel, sang ayah berkata: "Nak, ini tempat orang-orang kaya tidur.. Tuh lihat, mungkin skrg lagi ada hajatan." Sang anak pun kembali mengajukan pertanyaan. "Kenapa pak?", dst. *Dalam hati saya agak miris..
** meski sang ayah berbicara begitu, namun tidak ada kalimat penyerta yg berisikan info-info negatif, tdak memprovokasi, dsb..
1 hal lagi..sang sopir tidak mempertontonkan adegan "menghisap rokok." Bagi saya, ini adalah prestasi. Ayah yang bisa melawan dirinya sndiri utk tidak mendewakan si puntungan pembawa derita itu..
** ayah yang perokok itu, scara tak sadar n tak langsung..sedang membunuh anaknya secara perlahan.
Tahukah? Selama perjalanan, saya pun kerap mengembangkan senyuman.. Senang, melihat keakraban ayah-anak ini. Bahkan, saya betah berada di angkot itu..haha. Saya hafal pula nomor plat angkot tsb.. D 1915..
Sebelum saya turun dari angkot, saya mendengar si anak berkata: "Bapak, nanti makan ayam yaa.." Sang ayah pun tanpa ragu -mengiyakan- permintaan sang jagoannya itu. So..sweet...
Tahukah? Dari pengalaman ini, saya jadi yakin..bahwa salah 1 ungkapan cinta yang sederhana, adalah: dengan MENDENGARKAN. Semoga Allah senantiasa menjaga kehangatan keluarga tersebut. Sang anak menjadi anak yang shaleh dan berbhakti. Pun orangtuanya, menjadi sosok ayah yang bijaksana dan pembelajar. Semoga makin banyak pula sopir yang masih menjunjung tinggi etika dan ramah-tamah. In shaa Allah lebih barakah.. Aamiin.
Kamis, 20 Februari 2014
Feed Back of MY SACRIFICE
Bismillah…
Tidak semua pengorbanan bisa mendapatkan feedback sesuai harapan. Bahkan ketika kita merasa sudah all out dalam memberikan segalanya. Pun yang terjadi pada orang tua dan anak. Sering kali, suatu masalah berawal dari segala yang tidak proporsional, entah “kekurangan” atau terlalu berlebihan. Kondisi yang relevan dengan judul dari artikel ini adalah tentang kasih-sayang yang kurang proporsional. Kasih sayang yang berlebihan, berujung pada sikap memanjakan. Kombinasi antara perasaan terlalu sayang, terlalu khawatir sehingga orang tua menjadi –over protective-. Namun, tahukah? Saat kita memanjakan anak dan selalu memberikan segala kemudahan, maka berarti kita mempersiapkan serentetan ‘kesulitan’ bagi mereka di masa yang akan datang.
Di samping mental anak menjadi kurang mandiri, belum tentu juga segala yang diberikan akan berbalik –indah- pada orang tuanya. Apa Anda berpikir bahwa dengan memanjakan anak, maka anak “akan memberikan hal yang sama” kepada orang tuanya??. One day, justru anak akan menggugat kepada orang tua mereka “mengapa saya tidak bisa melakukan apa-apa seperti teman lainnya?”, “kenapa ayah-bunda tidak ajarkan Aku tentang ini, itu, anu, dsb…?”, “kok Aku diledek sebagai anak cengeng sama teman-teman, mereka jadi males main sama Aku…”, dll.
Pada akhirnya situasi ini akan menyebabkan beban psikologis bagi sang anak, karena merasa tidak terampil dalam kehidupan. Terampil disini, bukan hanya dimaknai seputar kecakapan teknis dalam melakukan suatu pekerjaan (hard skill), tapi terkait juga dengan soft skill, seperti: kematangan emosional, kemampuan interaksi, ketahanan dalam menghadapi konflik, dsb. Oleh karenanya, tidak jarang anak-anak malah menjadi –sebal- kepada orang tuanya atau malah membenci dirinya sendiri.
Bahkan, ketika beranjak dewasa..anak bisa saja tidak begitu peka dengan kesulitan orang tuanya. Yaa, karena sejak kecil mereka tidak terbiasa untuk belajar “berjuang”…tidak terbiasa untuk menemui kesulitan, tidak terbiasa untuk berempati. Rasa egois, akan menjadikan hati seseorang menjadi keras..bahkan bebal. Mana bisa kita menghargai orang yang sudah susah payah membersihkan rumah, sementara kita tidak pernah/tidak terbiasa melakukannya. So that, bisa jadi, ketika usia orang tua semakin beranjak senja dan anak beranjak dewasa, kehidupan tidak akan berubah. Dalam arti: orang tua akan tetap “kerepotan”, karena tetap harus melayani “anak kesayangannya”. Namun..miris, sang anak –tidak ngeh- dengan kepayahan orang tuanya.
Pada kondisi tersebut, anak seolah seperti –sosok yang durhaka-. Akan tetapi, kita tidak bisa mempersalahkan kondisi anak yang seperti ini. Why? Karena anak adalah bentukan dari orang tuanya! Bagi para orang tua, hendaknya introspeksi diri terlebih dahulu tentang apa saja yang terjadi pada anak-anak kita. Maka, sedari kecil bimbinglah anak untuk terbiasa “bekerja-sama”..membangun rasa empati dengan melibatkan mereka pada MISI-MISI KECIL yang inshaa Allah kelak berdampak besar bagi kehidupan mereka.
Hal penting yang harus selalu kita ingat adalah, kenalkan anak dengan dien-nya. Didiklah anak sesuai dengan tuntunan Islam. Saya amat sangat berkeyakinan, ISLAM itu dapat merubah segalanya. Seorang anak yang merasa “kurang kasih sayang”semasa ia kecil, bisa meredam dendam dan benci kepada orang tuanya karena ia tahu bahwa “birul walidain” adalah amalan yang Allah utamakan. Bahkan bagaimanapun “jahatnya” orang tua kita, tetap harus kita muliakan. Orang tua pun demikian, ketika paham dengan ajaran Islam..maka Inshaa Allah akan senantiasa berupaya BERUBAH menjadi lebih baik demi membentuk generasi yang madani.
Dalam Islam, ketika setiap amalan baik dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, maka Inshaa Allah tidak akan ada yang tersia (termasuk kebaikan orang tuapada anak, atau sebaliknya). Akan tetapi, alangkah lebih baik lagi apabila setiap amalan yang kita lakukan, tidak hanya sekedar baik..namun juga BENAR (caranya) dan bijaksana. Pun dalam menyanyangi anak-anak kita. Menyayangi sekaligus mendidik. Semoga kita semua dapat menjadi orang tua yang sesuai dengan tuntunan dien ini, ISLAM…rahmatan lil ‘alamiin. Allohumma Aamiin..
Feed Back of MY SACRIFICE
Tidak semua pengorbanan bisa mendapatkan feedback sesuai harapan. Bahkan ketika kita merasa sudah all out dalam memberikan segalanya. Pun yang terjadi pada orang tua dan anak. Sering kali, suatu masalah berawal dari segala yang tidak proporsional, entah “kekurangan” atau terlalu berlebihan. Kondisi yang relevan dengan judul dari artikel ini adalah tentang kasih-sayang yang kurang proporsional. Kasih sayang yang berlebihan, berujung pada sikap memanjakan. Kombinasi antara perasaan terlalu sayang, terlalu khawatir sehingga orang tua menjadi –over protective-. Namun, tahukah? Saat kita memanjakan anak dan selalu memberikan segala kemudahan, maka berarti kita mempersiapkan serentetan ‘kesulitan’ bagi mereka di masa yang akan datang.
Di samping mental anak menjadi kurang mandiri, belum tentu juga segala yang diberikan akan berbalik –indah- pada orang tuanya. Apa Anda berpikir bahwa dengan memanjakan anak, maka anak “akan memberikan hal yang sama” kepada orang tuanya??. One day, justru anak akan menggugat kepada orang tua mereka “mengapa saya tidak bisa melakukan apa-apa seperti teman lainnya?”, “kenapa ayah-bunda tidak ajarkan Aku tentang ini, itu, anu, dsb…?”, “kok Aku diledek sebagai anak cengeng sama teman-teman, mereka jadi males main sama Aku…”, dll.
Pada akhirnya situasi ini akan menyebabkan beban psikologis bagi sang anak, karena merasa tidak terampil dalam kehidupan. Terampil disini, bukan hanya dimaknai seputar kecakapan teknis dalam melakukan suatu pekerjaan (hard skill), tapi terkait juga dengan soft skill, seperti: kematangan emosional, kemampuan interaksi, ketahanan dalam menghadapi konflik, dsb. Oleh karenanya, tidak jarang anak-anak malah menjadi –sebal- kepada orang tuanya atau malah membenci dirinya sendiri.
Bahkan, ketika beranjak dewasa..anak bisa saja tidak begitu peka dengan kesulitan orang tuanya. Yaa, karena sejak kecil mereka tidak terbiasa untuk belajar “berjuang”…tidak terbiasa untuk menemui kesulitan, tidak terbiasa untuk berempati. Rasa egois, akan menjadikan hati seseorang menjadi keras..bahkan bebal. Mana bisa kita menghargai orang yang sudah susah payah membersihkan rumah, sementara kita tidak pernah/tidak terbiasa melakukannya. So that, bisa jadi, ketika usia orang tua semakin beranjak senja dan anak beranjak dewasa, kehidupan tidak akan berubah. Dalam arti: orang tua akan tetap “kerepotan”, karena tetap harus melayani “anak kesayangannya”. Namun..miris, sang anak –tidak ngeh- dengan kepayahan orang tuanya.
Pada kondisi tersebut, anak seolah seperti –sosok yang durhaka-. Akan tetapi, kita tidak bisa mempersalahkan kondisi anak yang seperti ini. Why? Karena anak adalah bentukan dari orang tuanya! Bagi para orang tua, hendaknya introspeksi diri terlebih dahulu tentang apa saja yang terjadi pada anak-anak kita. Maka, sedari kecil bimbinglah anak untuk terbiasa “bekerja-sama”..membangun rasa empati dengan melibatkan mereka pada MISI-MISI KECIL yang inshaa Allah kelak berdampak besar bagi kehidupan mereka.
Hal penting yang harus selalu kita ingat adalah, kenalkan anak dengan dien-nya. Didiklah anak sesuai dengan tuntunan Islam. Saya amat sangat berkeyakinan, ISLAM itu dapat merubah segalanya. Seorang anak yang merasa “kurang kasih sayang”semasa ia kecil, bisa meredam dendam dan benci kepada orang tuanya karena ia tahu bahwa “birul walidain” adalah amalan yang Allah utamakan. Bahkan bagaimanapun “jahatnya” orang tua kita, tetap harus kita muliakan. Orang tua pun demikian, ketika paham dengan ajaran Islam..maka Inshaa Allah akan senantiasa berupaya BERUBAH menjadi lebih baik demi membentuk generasi yang madani.
Dalam Islam, ketika setiap amalan baik dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, maka Inshaa Allah tidak akan ada yang tersia (termasuk kebaikan orang tuapada anak, atau sebaliknya). Akan tetapi, alangkah lebih baik lagi apabila setiap amalan yang kita lakukan, tidak hanya sekedar baik..namun juga BENAR (caranya) dan bijaksana. Pun dalam menyanyangi anak-anak kita. Menyayangi sekaligus mendidik. Semoga kita semua dapat menjadi orang tua yang sesuai dengan tuntunan dien ini, ISLAM…rahmatan lil ‘alamiin. Allohumma Aamiin..
Senin, 06 Januari 2014
(How to be…) Kartini Masa Kini
Bismillah..
Ø Seorangguru wanita, kebingungan karena keran di kamar mandi kelas rusak dan terlepas. Walhasil airnya menyembur tak terkendali. Akhirnya si ibu berinisiatif untuk meminta bantuan kepada penjaga sekolah untuk memperbaiki keran tersebut.
Guru: Pak, maaf nih, bisa tolong betulkan keran air dikamar mandi kelas saya?? Soalnya kerannya rusak, airnya nyembur-nyembur..
Pak penjaga: Oh.. silakan bu, gak apa-apa! (Si bapak segera bergegas ke kamar mandi untuk membantu membenarkan keran air yang rusak itu)
**Tidak lama kemudian, si bapak keluar sambil berkata: tuhkan bu, bohong yaa!
Guru: Emangnya bohong kenapa gitu pak?? (bertanyakeheranan..)
Pak penjaga: Yaa ternyata emansipasi bohong ya bu, nih buktinya…kalau urusan begini mah tetap minta tolong sama laki-laki!
Guru: hmm, iya.. (sambil senyum mikir…)
Pak penjaga: yaudah bu, saya permisi dulu yaa bu.. dah kelar kok.
Guru: Nghhh, iya iya pak.. Makasih banyak yaa! (setelah pak penjaga berlalu, guru ini kemudian berkata untuk dirinya sendiri…
Omongan si bapak Nampak simple, tapi..cukup reasonable…
Ø Seorangistri harus berdebat panjang dulu dengan suaminya, mengenai siapa yang akan menghadiri pertemuan –orang tua & guru- di sekolah anak mereka.
Istri : ayah, nanti sabtu.. ayah saja yaa, yang hadir ke sekolah si kakak, ibu kan ada janji dengan client..
Suami: bun, kan sabtu kemarin juga kita tidak jadi tamasyake Water Boom karena ibu mendadak ada kunjungan kerja ke luar kota.. Sabtu ini,giliran ayah yang ada urusan keluar kota dengan para rekan bisnis ayah. Ayah harap bunda bisa meluangkan waktu sejenak ke Sekolah kakak.
Istri: Ayah ini gimana sih! Ayah tahu kan posisi bunda di perusahaan itu sebagai apa??? Senior marketing yah! Masa gak memberikan teladan baik pada anak buahnya, kalo sampai bunda harus mangkir!
Suami: hey..hey bun, kan ayah tidak minta bunda untuk mangkir…tapi..-hadir sejenak- ke sekolah kakak.. setelah itu, bunda dengan client bunda… kan tinggal me-reschedule saja.. Hubungi sajaclient bunda dari sekarang.. ok?
Istri: Ayah.. tolong yaaa! Jangan pengen enak sendiri! Ayah aja yang –absen- dulu dari pertemuan dengan rekan bisnis! Beres kan?!?!?
Ayah: MasyaAllah bun… ini kan untuk anak kita juga.. jangan keterlaluan lah bun..
Istri: Pokoknya, bunda sibuk! Titik.
Ø Dua orang yang saling berteman baik, sedang berjalan bersama menuju rumah mereka masing-masing. Di perjalanan cukup terjadi percakapan yang menarik, karena salah satu diantara mereka tertarik untuk –memenuhi- tawaran pekerjaan dari salah seorang kenalannya..
Remaja A: Ran, kok dikau senyum-senyum melulu dari pas tadi kita bubar sekolah??
Remaja B: hehehe, ah enggak apa-apa!
Remaja A: ihhh, bokis (bohong) luw!! Ada apa sih?? Kok gak cerita-cerita gitu.. pengen tau dong!
Remaja B: kepo deh! Pengen tau aja..atau pengen tau banget?! Hihi..
Remaja A: pengen tau banget…tingkat dewa! Ayoo dong sekarang cerita…..
Remaja B: haha, oke deh.. kasian liat wajah memelasmu! Hmm,jadi gini! Bentar lagi..gue bakalan tenar! Terkenal, sejajar seleb.. xixixixi
Remaja A: waaah!!! Mau jadi artis nih??keren banget.. Ehh,tapi apa-an dulu nih??hehe
Remaja B: Hmm, gue nerima tawaran seorang temen, katanya sedang butuh model buat majalah dewasa ******. Kan lumayan juga tuh –fee- nya,gue bisa gonta-ganti HP..beli2 baju n sepatu model terbaru… ahh, banyak deh impian gue! Kalo gue dah punya mobil sendiri, lu bisa nebeng kok! Haa.
Remaja A: Astagfirullah… Ran. Gue saran biar lu bisa pikirin lagi keputusan lu..please! iyaa, gue tau mungkin honornya besar banget.. lu juga punya banyak impian,tapi..kan caranya masih banyak yang lebih baek..
Remaja B: Ahhh, kok jadi ceramah lu May! Gak usah dehatur-atur idup gue.. Jaman sekarang kan dah beda, termasuk cewek-cewek sekarangjuga dah lebih bebas untuk berekspresi! Milih profesi yang kita suka! Jangan-jangan lu ngiri lagi??
Remaja A: MasyaAllah.. bukan gitu Ran.. Gue Cuma sayang sama lu, jadi gue ngomong gini!
Remaja B: Ahh, sayang-sayang… Bull****. Nyesel gue cerita ma lu! Reseh! (sambil berjalan lebih cepat, setengah berlari)
Remaja A: eh…eh, Ran! Tunggu.. jangan marah.. Ran… Ran..(mencoba mengejar langkah temannya itu..)
Ø Dua orang sahabat sedang berbincang di sebuah Caffe, seusai mengikuti perkumpulan rutin – Persatuan Aktivsi Feminis Ekstrimis-. Mereka mulai mengalami–pergeseran nilai-…
X: Bener juga yaa, kata siapa perempuan kerjaannya Cuma–diem di rumah-. Toh makin kemari, makin keliatan bahwa kemampuan perempuan kadang melebihi kapasitas laki-laki.
Y: Sepakat sob! Hmm, sekarang udah mulai terbukti bahwa perempuan bukan –mahluk- kelas kedua lagi. Sebel banget kalo udah liat perempuan diinjek-injek harga dirinya! Bahkan sama suaminya sendiri..
X: Hahaha, ehh Non, sekarang kan udah banyak yang kebalik kondisinya!
Y:Maksud??
X: Iya, kan dah banyak juga kali perempuan yang jadi –pahlawan- keluarga.. Ehh,malah bisa ngalahin gaji suaminya! Haha. Keren gak tuh! Sampe2 suaminya gak bisa semena-mena..
Y: Hehe, iya juga ya! Btw, kita daritadi ngomongin tentang–rumah tangga- orang mulu yaa?? Hahaha, padahal kita kan sama-sama masih free!Hihi
X: Ahh, kalo saya sih..jadi gak kepikiran kearah sana… Toh,dengan –single- pun kita bisa survive! Ini emansipasi Sob!
Y: Yup, yup.. saya juga gak ma rela deh jadi . Kan kalo jadi istri kudu patuh sama suami…. Enggaaaak banget dah!
X: Yeah! Kan gak sesuai ma prinsip kita…
Y: Yoi, fren!!!
> Helloooo!!!Apa sih emansipasi?? Apa seperti gambaran beberapa percakapan tadi?? Apa
seperti itu kah KARTINI masa kini??
> Apakah emansipasi itu diaplikasikan dengan.............
menghabiskan separuh waktu di luar rumah tanpa peduli keluarga?
menolak untuk patuh kepada suam?tidak mau melakukan tuntutan kodrati, bahkan kaidah syar’i?
sengaja –merendahkan- nilai dan harga dirinya sendiri?
Hmm, coba teman-teman bandingkan dengan kiprah beberapa tokoh di bawah ini……
Zainab Binti Jahsy
-
- Berhati lembut, penyayang dan suka menolong
- Memiliki keahlian dan keterampilan yang banyak.
- Ahli sedekah,sehingga diriwayatkan :
Aisyah: “ Ternyata tangan terpanjang diantara kami adalah Zainab, sebab ia sudah biasa berusaha dengan tangannya sendiri dan bersedekah.” (HR. Muslim)
Rufaidah binti Sa’ad
-
- Perawat Islam pertama sejak zaman Rasul ( abad ke-8 SM)
- Teladan, baik dan empati, organisatoris, pemimpin dan motivator.
- Turut memecahkan masalah sosial
- Sukarelawan di perang : Badr, Uhud, Khandaq dan khaibar.
- Pencetus Rumah Sakit lapangan (berupa tenda)
- Pencetus sekolah keperawatan
Hj Wirianingsih (Bu Wiwi)
Hal Spesial : Ibudari 10 anak penghafal Al-Quran
Kiprah :
Ibu yang inspiratif bagi anak-anaknya (teladan dan inspiratif)
Madrasah pertama bagi anak-anaknya (Blueprint orang tua,Visi Keluarga)
Memiliki peran sosial yang banyak (Ketum Salimah, Presidium BMOIWI, Ketua Aliansi Selamatkan Anak/ ASA, Staf Departemen Kaderisasi DPP parpol Islam)
Aktivis ketika masih menjadi pelajar dan Mahasiswa ( PII dan HMI)
Asma Nadia (Asmarani Rosalba)
Hal spesial : penulis yang telah melahirkan karya-karya yanginspiratif.
Misal: Buku Rembulan dimata Ibu à mendapat penghargaan sebagai buku remajat erbaik versi IKAPI (2001), Novel Dialog Dua Layar à karya yang membuat beliau dinobatkan menjadi penulis terbaik dari IKAPI (2002)
Hal menarik dibalik fakta :
Ø Gemar sekali membaca (sehari min.1-2 buku, bila sedang semangat 3-4 buku sehari)
Ø Bisa membaca buku setebal 400-500 halaman dalam waktu 3 jam.
Ø Kegemarannya inilah yang sebenarnya menghantarkan ia menjadi seorang penulis.
> So,Kartini masa kini adalah…
- Dia yang mampu memberikan kontribusi untuk kehidupan
- Dia yang berani berbeda demi kebaikan dan kebenaran..(dengan catatan,,gak melanggar aturan agama dan hukum yaa..he)
- Dia yang melakukan langkah-langkah inspiratif dan solutif untuk lebih memuliakan peran wanita
Pada dasarnya Allah menciptakan Laki-laki dan perempuan adalah untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk saling mengungguli…
> Semoga kita semua lebih -bright- lagi memaknai emansipasi wanita!
Untuk saudari2ku: Selamat berkarya, selamat melakukan aksi nyata.. untuk menjadi inspirator, tidak hanya pada sesama wanita, namun sesama manusia, di seluruh dunia! Aku, kamu, mereka dan kita semua …InsyaAllah pasti BISA!!! :D
Wallahu'alam bishawab...
(How to be…) Kartini Masa Kini
Ø Seorangguru wanita, kebingungan karena keran di kamar mandi kelas rusak dan terlepas. Walhasil airnya menyembur tak terkendali. Akhirnya si ibu berinisiatif untuk meminta bantuan kepada penjaga sekolah untuk memperbaiki keran tersebut.
Guru: Pak, maaf nih, bisa tolong betulkan keran air dikamar mandi kelas saya?? Soalnya kerannya rusak, airnya nyembur-nyembur..
Pak penjaga: Oh.. silakan bu, gak apa-apa! (Si bapak segera bergegas ke kamar mandi untuk membantu membenarkan keran air yang rusak itu)
**Tidak lama kemudian, si bapak keluar sambil berkata: tuhkan bu, bohong yaa!
Guru: Emangnya bohong kenapa gitu pak?? (bertanyakeheranan..)
Pak penjaga: Yaa ternyata emansipasi bohong ya bu, nih buktinya…kalau urusan begini mah tetap minta tolong sama laki-laki!
Guru: hmm, iya.. (sambil senyum mikir…)
Pak penjaga: yaudah bu, saya permisi dulu yaa bu.. dah kelar kok.
Guru: Nghhh, iya iya pak.. Makasih banyak yaa! (setelah pak penjaga berlalu, guru ini kemudian berkata untuk dirinya sendiri…
Omongan si bapak Nampak simple, tapi..cukup reasonable…
Ø Seorangistri harus berdebat panjang dulu dengan suaminya, mengenai siapa yang akan menghadiri pertemuan –orang tua & guru- di sekolah anak mereka.
Istri : ayah, nanti sabtu.. ayah saja yaa, yang hadir ke sekolah si kakak, ibu kan ada janji dengan client..
Suami: bun, kan sabtu kemarin juga kita tidak jadi tamasyake Water Boom karena ibu mendadak ada kunjungan kerja ke luar kota.. Sabtu ini,giliran ayah yang ada urusan keluar kota dengan para rekan bisnis ayah. Ayah harap bunda bisa meluangkan waktu sejenak ke Sekolah kakak.
Istri: Ayah ini gimana sih! Ayah tahu kan posisi bunda di perusahaan itu sebagai apa??? Senior marketing yah! Masa gak memberikan teladan baik pada anak buahnya, kalo sampai bunda harus mangkir!
Suami: hey..hey bun, kan ayah tidak minta bunda untuk mangkir…tapi..-hadir sejenak- ke sekolah kakak.. setelah itu, bunda dengan client bunda… kan tinggal me-reschedule saja.. Hubungi sajaclient bunda dari sekarang.. ok?
Istri: Ayah.. tolong yaaa! Jangan pengen enak sendiri! Ayah aja yang –absen- dulu dari pertemuan dengan rekan bisnis! Beres kan?!?!?
Ayah: MasyaAllah bun… ini kan untuk anak kita juga.. jangan keterlaluan lah bun..
Istri: Pokoknya, bunda sibuk! Titik.
Ø Dua orang yang saling berteman baik, sedang berjalan bersama menuju rumah mereka masing-masing. Di perjalanan cukup terjadi percakapan yang menarik, karena salah satu diantara mereka tertarik untuk –memenuhi- tawaran pekerjaan dari salah seorang kenalannya..
Remaja A: Ran, kok dikau senyum-senyum melulu dari pas tadi kita bubar sekolah??
Remaja B: hehehe, ah enggak apa-apa!
Remaja A: ihhh, bokis (bohong) luw!! Ada apa sih?? Kok gak cerita-cerita gitu.. pengen tau dong!
Remaja B: kepo deh! Pengen tau aja..atau pengen tau banget?! Hihi..
Remaja A: pengen tau banget…tingkat dewa! Ayoo dong sekarang cerita…..
Remaja B: haha, oke deh.. kasian liat wajah memelasmu! Hmm,jadi gini! Bentar lagi..gue bakalan tenar! Terkenal, sejajar seleb.. xixixixi
Remaja A: waaah!!! Mau jadi artis nih??keren banget.. Ehh,tapi apa-an dulu nih??hehe
Remaja B: Hmm, gue nerima tawaran seorang temen, katanya sedang butuh model buat majalah dewasa ******. Kan lumayan juga tuh –fee- nya,gue bisa gonta-ganti HP..beli2 baju n sepatu model terbaru… ahh, banyak deh impian gue! Kalo gue dah punya mobil sendiri, lu bisa nebeng kok! Haa.
Remaja A: Astagfirullah… Ran. Gue saran biar lu bisa pikirin lagi keputusan lu..please! iyaa, gue tau mungkin honornya besar banget.. lu juga punya banyak impian,tapi..kan caranya masih banyak yang lebih baek..
Remaja B: Ahhh, kok jadi ceramah lu May! Gak usah dehatur-atur idup gue.. Jaman sekarang kan dah beda, termasuk cewek-cewek sekarangjuga dah lebih bebas untuk berekspresi! Milih profesi yang kita suka! Jangan-jangan lu ngiri lagi??
Remaja A: MasyaAllah.. bukan gitu Ran.. Gue Cuma sayang sama lu, jadi gue ngomong gini!
Remaja B: Ahh, sayang-sayang… Bull****. Nyesel gue cerita ma lu! Reseh! (sambil berjalan lebih cepat, setengah berlari)
Remaja A: eh…eh, Ran! Tunggu.. jangan marah.. Ran… Ran..(mencoba mengejar langkah temannya itu..)
Ø Dua orang sahabat sedang berbincang di sebuah Caffe, seusai mengikuti perkumpulan rutin – Persatuan Aktivsi Feminis Ekstrimis-. Mereka mulai mengalami–pergeseran nilai-…
X: Bener juga yaa, kata siapa perempuan kerjaannya Cuma–diem di rumah-. Toh makin kemari, makin keliatan bahwa kemampuan perempuan kadang melebihi kapasitas laki-laki.
Y: Sepakat sob! Hmm, sekarang udah mulai terbukti bahwa perempuan bukan –mahluk- kelas kedua lagi. Sebel banget kalo udah liat perempuan diinjek-injek harga dirinya! Bahkan sama suaminya sendiri..
X: Hahaha, ehh Non, sekarang kan udah banyak yang kebalik kondisinya!
Y:Maksud??
X: Iya, kan dah banyak juga kali perempuan yang jadi –pahlawan- keluarga.. Ehh,malah bisa ngalahin gaji suaminya! Haha. Keren gak tuh! Sampe2 suaminya gak bisa semena-mena..
Y: Hehe, iya juga ya! Btw, kita daritadi ngomongin tentang–rumah tangga- orang mulu yaa?? Hahaha, padahal kita kan sama-sama masih free!Hihi
X: Ahh, kalo saya sih..jadi gak kepikiran kearah sana… Toh,dengan –single- pun kita bisa survive! Ini emansipasi Sob!
Y: Yup, yup.. saya juga gak ma rela deh jadi . Kan kalo jadi istri kudu patuh sama suami…. Enggaaaak banget dah!
X: Yeah! Kan gak sesuai ma prinsip kita…
Y: Yoi, fren!!!
> Helloooo!!!Apa sih emansipasi?? Apa seperti gambaran beberapa percakapan tadi?? Apa
seperti itu kah KARTINI masa kini??
> Apakah emansipasi itu diaplikasikan dengan.............
menghabiskan separuh waktu di luar rumah tanpa peduli keluarga?
menolak untuk patuh kepada suam?tidak mau melakukan tuntutan kodrati, bahkan kaidah syar’i?
sengaja –merendahkan- nilai dan harga dirinya sendiri?
Hmm, coba teman-teman bandingkan dengan kiprah beberapa tokoh di bawah ini……
Zainab Binti Jahsy
-
- Berhati lembut, penyayang dan suka menolong
- Memiliki keahlian dan keterampilan yang banyak.
- Ahli sedekah,sehingga diriwayatkan :
Aisyah: “ Ternyata tangan terpanjang diantara kami adalah Zainab, sebab ia sudah biasa berusaha dengan tangannya sendiri dan bersedekah.” (HR. Muslim)
Rufaidah binti Sa’ad
-
- Perawat Islam pertama sejak zaman Rasul ( abad ke-8 SM)
- Teladan, baik dan empati, organisatoris, pemimpin dan motivator.
- Turut memecahkan masalah sosial
- Sukarelawan di perang : Badr, Uhud, Khandaq dan khaibar.
- Pencetus Rumah Sakit lapangan (berupa tenda)
- Pencetus sekolah keperawatan
Hj Wirianingsih (Bu Wiwi)
Hal Spesial : Ibudari 10 anak penghafal Al-Quran
Kiprah :
Ibu yang inspiratif bagi anak-anaknya (teladan dan inspiratif)
Madrasah pertama bagi anak-anaknya (Blueprint orang tua,Visi Keluarga)
Memiliki peran sosial yang banyak (Ketum Salimah, Presidium BMOIWI, Ketua Aliansi Selamatkan Anak/ ASA, Staf Departemen Kaderisasi DPP parpol Islam)
Aktivis ketika masih menjadi pelajar dan Mahasiswa ( PII dan HMI)
Asma Nadia (Asmarani Rosalba)
Hal spesial : penulis yang telah melahirkan karya-karya yanginspiratif.
Misal: Buku Rembulan dimata Ibu à mendapat penghargaan sebagai buku remajat erbaik versi IKAPI (2001), Novel Dialog Dua Layar à karya yang membuat beliau dinobatkan menjadi penulis terbaik dari IKAPI (2002)
Hal menarik dibalik fakta :
Ø Gemar sekali membaca (sehari min.1-2 buku, bila sedang semangat 3-4 buku sehari)
Ø Bisa membaca buku setebal 400-500 halaman dalam waktu 3 jam.
Ø Kegemarannya inilah yang sebenarnya menghantarkan ia menjadi seorang penulis.
> So,Kartini masa kini adalah…
- Dia yang mampu memberikan kontribusi untuk kehidupan
- Dia yang berani berbeda demi kebaikan dan kebenaran..(dengan catatan,,gak melanggar aturan agama dan hukum yaa..he)
- Dia yang melakukan langkah-langkah inspiratif dan solutif untuk lebih memuliakan peran wanita
Pada dasarnya Allah menciptakan Laki-laki dan perempuan adalah untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk saling mengungguli…
> Semoga kita semua lebih -bright- lagi memaknai emansipasi wanita!
Untuk saudari2ku: Selamat berkarya, selamat melakukan aksi nyata.. untuk menjadi inspirator, tidak hanya pada sesama wanita, namun sesama manusia, di seluruh dunia! Aku, kamu, mereka dan kita semua …InsyaAllah pasti BISA!!! :D
Wallahu'alam bishawab...
Kado di hari KARTINI: Main Stream (arus utama)
Kado di hari KARTINI: Main Stream (arus utama)
Bismillah….
Pernah dengar istilah –PUK- Peng-arus Utamaan Keluarga dan –PUG- Peng-arus Utamaan Gender?? Ternyata syariat islam, tidak cocok dengan –isu gender- lho..(ceritanya, saya mencoba men-sari-kan materi dari suatu seminar). Mengapa? Karena dengan adanya PUG, ternyata membuka peluang yang lebih luas untuk Lesbi, Biseksual, Homo, Transgender. Gender itu, pada dasarnya akan mengacu pada –perasaan- dan –pilihan- setiap manusia. Bukan berdasarkan –anugerah kodrati- (ketentuan Allah).
Jadi, dengan demikian sangat membuka peluang terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Misal: dalam –teori- gender, seorang anak kecil harus diberikan mainan yang –netral- terlebih dulu, dan tidak mengarah pada –jenis kelaminnya- (tidak menganggap penting penguatan karakter berdasarkan jenis kelamin).
Begini…. seorang anak laki-laki sah-sah saja ketika diberikan mainan –boneka Barbie- atau masak-masakan, atau seorang perempuan dibelikan mainan robot-robotan, pistol/senapan. Ketika si anak ternyata nyaman dengan mainan perempuan (boneka, masak-masakan, dsb), meski dia adalah seorang laki-laki…maka si anak berhak untuk menentukan pilihan bahwa ia memilih untuk tetap menjadi seorang laki-laki atau lebih nyaman menjadi seorang perempuan. Jadi, -identitas diri- itu masih bisa dikompromi berdasarkan –kenyamanan- tadi.
Bila sudah begini, pastinya akan mengundang –fitnah- besar-besaran. Inilah sebabnya di beberapa Negara luar yang –menjunjung tinggi- gender, menghalalkan perkawinan sesama jenis..bahkan diatur dalam konstitusi. Nah, bila ada –penentangan-, maka pihak penentang tersebut bisa dikatakan sebagai –penindas HAK ASASI MANUSIA-.
Biasanya, bila berbicara tentang gender akan terkait juga dengan emansipasi wanita. Sementara sejauh ini, frame ttg emansipasi (yang terkadang masih salah kaprah)..hanya membuat wanita (seolah) tersadarkan bahwa mereka benar-benar –mahluk- yang termarginalkan. Semangat yang muncul, terkadang adalah semangat yang bersifat –revenge-.
Oleh karenanya, imbas dari emansipasi yang –bablas- tersebut adalah –keluarga- yang menjadi victim. Keluarga yang terabaikan.. suami-istri yang tidak harmoni.. anak-anak yang –salah asuhan-.. Padahal, we need to know that, dari rumah lah…Negara ini bisa berdiri kuat. Rumah adalah –karantina- dasar dalam membentuk SDM yang berkualitas. Keluarga –pecah-…Negara pun akan –bermasalah-..karena SDM yang terbentuk adalah manusia yang.. –payah- !
So, Indonesia… mau pilih yang mana??? PUK atau PUG?? –tapi jangan galauuu- ;)
The last: Lets make Indonesian strong from home… ^^v
Wallahu’lalam Bishawab….
Bismillah….
Pernah dengar istilah –PUK- Peng-arus Utamaan Keluarga dan –PUG- Peng-arus Utamaan Gender?? Ternyata syariat islam, tidak cocok dengan –isu gender- lho..(ceritanya, saya mencoba men-sari-kan materi dari suatu seminar). Mengapa? Karena dengan adanya PUG, ternyata membuka peluang yang lebih luas untuk Lesbi, Biseksual, Homo, Transgender. Gender itu, pada dasarnya akan mengacu pada –perasaan- dan –pilihan- setiap manusia. Bukan berdasarkan –anugerah kodrati- (ketentuan Allah).
Jadi, dengan demikian sangat membuka peluang terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Misal: dalam –teori- gender, seorang anak kecil harus diberikan mainan yang –netral- terlebih dulu, dan tidak mengarah pada –jenis kelaminnya- (tidak menganggap penting penguatan karakter berdasarkan jenis kelamin).
Begini…. seorang anak laki-laki sah-sah saja ketika diberikan mainan –boneka Barbie- atau masak-masakan, atau seorang perempuan dibelikan mainan robot-robotan, pistol/senapan. Ketika si anak ternyata nyaman dengan mainan perempuan (boneka, masak-masakan, dsb), meski dia adalah seorang laki-laki…maka si anak berhak untuk menentukan pilihan bahwa ia memilih untuk tetap menjadi seorang laki-laki atau lebih nyaman menjadi seorang perempuan. Jadi, -identitas diri- itu masih bisa dikompromi berdasarkan –kenyamanan- tadi.
Bila sudah begini, pastinya akan mengundang –fitnah- besar-besaran. Inilah sebabnya di beberapa Negara luar yang –menjunjung tinggi- gender, menghalalkan perkawinan sesama jenis..bahkan diatur dalam konstitusi. Nah, bila ada –penentangan-, maka pihak penentang tersebut bisa dikatakan sebagai –penindas HAK ASASI MANUSIA-.
Biasanya, bila berbicara tentang gender akan terkait juga dengan emansipasi wanita. Sementara sejauh ini, frame ttg emansipasi (yang terkadang masih salah kaprah)..hanya membuat wanita (seolah) tersadarkan bahwa mereka benar-benar –mahluk- yang termarginalkan. Semangat yang muncul, terkadang adalah semangat yang bersifat –revenge-.
Oleh karenanya, imbas dari emansipasi yang –bablas- tersebut adalah –keluarga- yang menjadi victim. Keluarga yang terabaikan.. suami-istri yang tidak harmoni.. anak-anak yang –salah asuhan-.. Padahal, we need to know that, dari rumah lah…Negara ini bisa berdiri kuat. Rumah adalah –karantina- dasar dalam membentuk SDM yang berkualitas. Keluarga –pecah-…Negara pun akan –bermasalah-..karena SDM yang terbentuk adalah manusia yang.. –payah- !
So, Indonesia… mau pilih yang mana??? PUK atau PUG?? –tapi jangan galauuu- ;)
The last: Lets make Indonesian strong from home… ^^v
Wallahu’lalam Bishawab….
ANAK: kami INGIN AYAH disini..
Bismillah..
Hadirnya sosok ayah dalam pola pengasuhan anak sehari-hari, ternyata dapat berpengaruh terhadap pembentukan self esteem/ harga diri seorang anak. Anak membutuhkan sosok yang tegas, lugas, logis namun tetap lembut dan penyayang. Figur yang ‘disegani’ amat dibutuhkan dalam mendidik anak guna menerapkan kedisiplinan. Seorang ayah yang dengan segala pengorbanannya, mampu memberikan semangat dan perlindungan akan menjadikan anak-anaknya begitu merasa berharga dihadapan orang tuanya. Dengan demikian, anak tidak akan ‘gatal’ mencari perhatian dan kenyamanan dari orang lain, apalagi orang yang salah.
Sadarkah kita bahwa makin kemari, grafik kasus asusila semakin melonjak naik? Bila kita telusuri kembali, semua tidak lepas dari masalah keluarga. Anak-anak yang terlibat dengan prostitusi, rata-rata berasal dari keluarga/ orangtua yang cuek, tidak perhatian terhadap anak-anaknya. Bahkan banyak pula orangtua yang ‘kebobolan’, tidak tahu bahwa anak-anak mereka telah menjadi PSK remaja (usia 12-17 tahun). Perhatian yang dibutuhkan oleh anak jangan hanya dianggap dapat tergantikan dengan memberikan mereka sejumlah materi. Anak butuh penguatan karakter, penguatan spiritual, di arahkan agar dapat mengelola emosi, membutuhkan komunikasi yang hangat, adanya pengakuan, dsb. Apakah orangtua masih saja –merasa aman- sementara anak-anak mereka tidak terpenuhi segala kebutuhannya?
Zaman ini semakin edan! Perubahan teknologi kecepatannya melebihi desah nafas kita! Kejahatan pun semakin canggih modus-modusnya. Oleh karenanya, apakah cukup membekali anak hanya dengan kecerdasan akal dan limpahan materi? Bila orangtua masih berpikir seperti itu, pantas saja Indonesia menjadi salah satu Negara berprestasi dalam korupsi. Pinter tapi keblinger! Katanya berpendidikan tinggi, tapi hobi melanggar hak orang lain plus kewajiban diri. Coba saja para orangtua melakukan otokritik, apakah selama ini yang ditekankan pada anak hanyalah seputar: dapat ranking bagus, rajin sekolah, pergi les, kerjakan PR dengan baik, masuk sekolah favorit, masuk kuliah ternama, kerja di perusahaan ‘X’, dapat istri/ suami cakep dan kaya, dsb?. Yup, semua yang ditekankan bersifat duniawi, mereka bisa saja pintar secara intelegensi serta harapan-harapan tersebut bisa saja mudah terpenuhi. Namun apakah cerdas pula dengan spiritual dan emosionalnya?
Jangan heran bila sekarang terdapat istilah ‘ayam kampus’. Secara kasat mata mereka memang tidak beda seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlihat sebagai sosok pandai, rajin dan terpelajar. Tapi, apa kabar dengan moral? Astagfirullah. Bila ditanyakan alasan mereka menjadi ‘ayam intelektual’, dengan enteng menjawab: yaa ikutan teman, ‘terlanjur’ sama pacar, pengen beli BB, pengen beli baju baru, buat jajan aja, dsb. Intinya mereka hanya mengejar gaya hidup yang mewah. Begitupun dengan anak-anak yang kecanduan pornografi, mereka demikian karena luput dari perhatian dan pengawasan orangtua.
Tahukah, bahwa kecanduan pornografi dapat merusak otak 5x lebih dahsyat daripada NARKOBA? Dan karena pornografi pula bisa membuat seorang anak TK berbuat asusila terhadap teman mainnya sendiri! Kenyataan ini di sekitar kita, saudaraku! Naudzubillahimindzalik.. Nah, orangtuanya ada dimana?. Mau jadi apa generasi negeri ini…
Kembali lagi pada keluarga! Mari kita kokohkan generasi melalui kelompok sosial terkecil yang bernama KELUARGA! Tidak cukup hanya ibu! Tidak cukup hanya ibu! Ibu memang menjadi madrasatul aulad, madrasah bagi anaknya, namun ayah pula yang turut mengokohkan pendidikan anak. Kami butuh seorang ayah yang peduli, seorang ayah yang dapat bekerjasama baik dengan ibu dalam mendidik kami. Tidak sekedar kewajiban mencari nafkah, namun turut serta dalam mendidik –langsung- kami. Wahai ayah, aku dan ibu inginkan kau disini..
-hasil daya tangkap dari suatu seminar parenting, n dalam rangka HARI KELURGA-
ANAK: kami INGIN AYAH disini..
Hadirnya sosok ayah dalam pola pengasuhan anak sehari-hari, ternyata dapat berpengaruh terhadap pembentukan self esteem/ harga diri seorang anak. Anak membutuhkan sosok yang tegas, lugas, logis namun tetap lembut dan penyayang. Figur yang ‘disegani’ amat dibutuhkan dalam mendidik anak guna menerapkan kedisiplinan. Seorang ayah yang dengan segala pengorbanannya, mampu memberikan semangat dan perlindungan akan menjadikan anak-anaknya begitu merasa berharga dihadapan orang tuanya. Dengan demikian, anak tidak akan ‘gatal’ mencari perhatian dan kenyamanan dari orang lain, apalagi orang yang salah.
Sadarkah kita bahwa makin kemari, grafik kasus asusila semakin melonjak naik? Bila kita telusuri kembali, semua tidak lepas dari masalah keluarga. Anak-anak yang terlibat dengan prostitusi, rata-rata berasal dari keluarga/ orangtua yang cuek, tidak perhatian terhadap anak-anaknya. Bahkan banyak pula orangtua yang ‘kebobolan’, tidak tahu bahwa anak-anak mereka telah menjadi PSK remaja (usia 12-17 tahun). Perhatian yang dibutuhkan oleh anak jangan hanya dianggap dapat tergantikan dengan memberikan mereka sejumlah materi. Anak butuh penguatan karakter, penguatan spiritual, di arahkan agar dapat mengelola emosi, membutuhkan komunikasi yang hangat, adanya pengakuan, dsb. Apakah orangtua masih saja –merasa aman- sementara anak-anak mereka tidak terpenuhi segala kebutuhannya?
Zaman ini semakin edan! Perubahan teknologi kecepatannya melebihi desah nafas kita! Kejahatan pun semakin canggih modus-modusnya. Oleh karenanya, apakah cukup membekali anak hanya dengan kecerdasan akal dan limpahan materi? Bila orangtua masih berpikir seperti itu, pantas saja Indonesia menjadi salah satu Negara berprestasi dalam korupsi. Pinter tapi keblinger! Katanya berpendidikan tinggi, tapi hobi melanggar hak orang lain plus kewajiban diri. Coba saja para orangtua melakukan otokritik, apakah selama ini yang ditekankan pada anak hanyalah seputar: dapat ranking bagus, rajin sekolah, pergi les, kerjakan PR dengan baik, masuk sekolah favorit, masuk kuliah ternama, kerja di perusahaan ‘X’, dapat istri/ suami cakep dan kaya, dsb?. Yup, semua yang ditekankan bersifat duniawi, mereka bisa saja pintar secara intelegensi serta harapan-harapan tersebut bisa saja mudah terpenuhi. Namun apakah cerdas pula dengan spiritual dan emosionalnya?
Jangan heran bila sekarang terdapat istilah ‘ayam kampus’. Secara kasat mata mereka memang tidak beda seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlihat sebagai sosok pandai, rajin dan terpelajar. Tapi, apa kabar dengan moral? Astagfirullah. Bila ditanyakan alasan mereka menjadi ‘ayam intelektual’, dengan enteng menjawab: yaa ikutan teman, ‘terlanjur’ sama pacar, pengen beli BB, pengen beli baju baru, buat jajan aja, dsb. Intinya mereka hanya mengejar gaya hidup yang mewah. Begitupun dengan anak-anak yang kecanduan pornografi, mereka demikian karena luput dari perhatian dan pengawasan orangtua.
Tahukah, bahwa kecanduan pornografi dapat merusak otak 5x lebih dahsyat daripada NARKOBA? Dan karena pornografi pula bisa membuat seorang anak TK berbuat asusila terhadap teman mainnya sendiri! Kenyataan ini di sekitar kita, saudaraku! Naudzubillahimindzalik.. Nah, orangtuanya ada dimana?. Mau jadi apa generasi negeri ini…
Kembali lagi pada keluarga! Mari kita kokohkan generasi melalui kelompok sosial terkecil yang bernama KELUARGA! Tidak cukup hanya ibu! Tidak cukup hanya ibu! Ibu memang menjadi madrasatul aulad, madrasah bagi anaknya, namun ayah pula yang turut mengokohkan pendidikan anak. Kami butuh seorang ayah yang peduli, seorang ayah yang dapat bekerjasama baik dengan ibu dalam mendidik kami. Tidak sekedar kewajiban mencari nafkah, namun turut serta dalam mendidik –langsung- kami. Wahai ayah, aku dan ibu inginkan kau disini..
-hasil daya tangkap dari suatu seminar parenting, n dalam rangka HARI KELURGA-
SEJARAH
Bismillah...
Mengapa terkadang manusia terlupa dengan –sejarah- hidupnya sendiri. Misalnya..ketika kita pernah merasakan kesulitan-kesengsaraan-kepayahan, kemudian berhasil melewati itu semua,sehingga orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang sukses… Yang menjadi fokusadalah, apakah kita –mengharuskan- orang lain untuk sukses dengan mengikuti cara kita juga?? Ataukah..tentang -semangat juang- yang kita tularkan??.
Lucu, ketika ada kisah.. orang tua yang menginginkan anaknya untuk bisa survive dengan cara yang pernah ia lakukan (di jaman 70-an). Berharap anaknya merasakan ‘penderitaan’ yang sama, yang orang tua alami ketika ia masih muda. Bersekolah tanpa alas kaki, memakai pakaian yang sama setiap hari…menuntut ilmu tanpa transportasi yang memadai..dsb. Oke, tak ada masalah..bila maksudnya ingin menanamkan empati dan rasa –prihatin-.. Namun, ketika anak-anak tidak dibekali dengan arahan konkrit dan pemahaman tujuan yang jelas, yang terjadi adalah si anak merasa bahwa ia sedang diperbandingkan, dan naluri manusia: akan merasas angat –tidak nyaman- ketika ia dibanding-bandingkan dengan orang lain(termasuk dengan orang tua sendiri). Apakah pesan si orang tua sampai pada si anak?? Saya yakin, TIDAK sampai. Yang terjadi, si anak hanya mendongkol dihati..
Yaa, ada –proses- penyampaian pesan yang kurang sempurna… Untuk kasus ini, mungkin kita memang ingat dengan –sejarah hidup- kita.. namun, ketika kita merasakan kesulitan di masa lalu, apa –harus-orang lain juga ikut merasakan –kesulitan- yang serupa??? Yang bijak adalah,saat kita merasakan –tidak enak- berada di kondisi A, maka kita berusaha agar orang lain tidak merasakan kondisi yang sama….
Di satu sisi (ironis).. terkadang ketika kita merasakan pernah –menderita-..pernah merangkak dari dasar..hingga mencapa ipuncak ketinggian.. namun kita melupakan –sejarah- itu saat mempunyai –tuntutan besar- kepada orang lain. Dalam kondisi tersebut, kita kadang kehilangan objektifitas. Kita berorientasi pada hasil tanpa mau menoleh pada –proses-. Misalnya,orang tua yang menginginkan anaknya untuk menikah dengan seseorang yang–perfect-…mapan sagala-galana. Padahal, dahulu.. ayah-ibunya pun merasakan–perjuangan- mengarungi –kemelaratan-. Kalau sudah begitu, nampaknya orang tua akan lebih memilih orang yang mapan meski koruptor, daripada seseorang yang sedang merintis namun amanah.. Pan begini mah, namanya parah!
Hmm, selain itu...kasus –lupa akan sejarah- adalah ketika seseorang melupakan pihak-pihak yang berperan atas keberhasilan yang ia peroleh. Hakikat mahluk sosial, emang gak bisa hidup sendiri.. selain atas kuasa Allah, tentu keberhasilan yang kita raih tidak akanluput dari andil orang-orang di sekitar kita.. Rata-rata, kita juga mengabaikan dan melupakan bantuan yang sifatnya non-materiil…misalnya: doa dan semangat. Ketika dirundung masalah…getol skali meminta –dukungan-…sampai-sampai semua nama di–phone book- kita hubungi.. namun ketika –bahagia-..ingat namanya saja, tidak.
Betul juga kata Bung Karno: JAS MERAH jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! karena, dengan sejarah..kita bisa mengevaluasi kesalahan kita di masa lalu. Dengan sejarah..kita pun bisa mengulangi –kejayaan- di masa lalu. Yup, sejarah itu adalah masa lalu yang dapat diolah sehingga menjadi relevan di masa kini… :)
Wallahu'alam bishawab...
SEJARAH
Mengapa terkadang manusia terlupa dengan –sejarah- hidupnya sendiri. Misalnya..ketika kita pernah merasakan kesulitan-kesengsaraan-kepayahan, kemudian berhasil melewati itu semua,sehingga orang mengatakan bahwa kita adalah orang yang sukses… Yang menjadi fokusadalah, apakah kita –mengharuskan- orang lain untuk sukses dengan mengikuti cara kita juga?? Ataukah..tentang -semangat juang- yang kita tularkan??.
Lucu, ketika ada kisah.. orang tua yang menginginkan anaknya untuk bisa survive dengan cara yang pernah ia lakukan (di jaman 70-an). Berharap anaknya merasakan ‘penderitaan’ yang sama, yang orang tua alami ketika ia masih muda. Bersekolah tanpa alas kaki, memakai pakaian yang sama setiap hari…menuntut ilmu tanpa transportasi yang memadai..dsb. Oke, tak ada masalah..bila maksudnya ingin menanamkan empati dan rasa –prihatin-.. Namun, ketika anak-anak tidak dibekali dengan arahan konkrit dan pemahaman tujuan yang jelas, yang terjadi adalah si anak merasa bahwa ia sedang diperbandingkan, dan naluri manusia: akan merasas angat –tidak nyaman- ketika ia dibanding-bandingkan dengan orang lain(termasuk dengan orang tua sendiri). Apakah pesan si orang tua sampai pada si anak?? Saya yakin, TIDAK sampai. Yang terjadi, si anak hanya mendongkol dihati..
Yaa, ada –proses- penyampaian pesan yang kurang sempurna… Untuk kasus ini, mungkin kita memang ingat dengan –sejarah hidup- kita.. namun, ketika kita merasakan kesulitan di masa lalu, apa –harus-orang lain juga ikut merasakan –kesulitan- yang serupa??? Yang bijak adalah,saat kita merasakan –tidak enak- berada di kondisi A, maka kita berusaha agar orang lain tidak merasakan kondisi yang sama….
Di satu sisi (ironis).. terkadang ketika kita merasakan pernah –menderita-..pernah merangkak dari dasar..hingga mencapa ipuncak ketinggian.. namun kita melupakan –sejarah- itu saat mempunyai –tuntutan besar- kepada orang lain. Dalam kondisi tersebut, kita kadang kehilangan objektifitas. Kita berorientasi pada hasil tanpa mau menoleh pada –proses-. Misalnya,orang tua yang menginginkan anaknya untuk menikah dengan seseorang yang–perfect-…mapan sagala-galana. Padahal, dahulu.. ayah-ibunya pun merasakan–perjuangan- mengarungi –kemelaratan-. Kalau sudah begitu, nampaknya orang tua akan lebih memilih orang yang mapan meski koruptor, daripada seseorang yang sedang merintis namun amanah.. Pan begini mah, namanya parah!
Hmm, selain itu...kasus –lupa akan sejarah- adalah ketika seseorang melupakan pihak-pihak yang berperan atas keberhasilan yang ia peroleh. Hakikat mahluk sosial, emang gak bisa hidup sendiri.. selain atas kuasa Allah, tentu keberhasilan yang kita raih tidak akanluput dari andil orang-orang di sekitar kita.. Rata-rata, kita juga mengabaikan dan melupakan bantuan yang sifatnya non-materiil…misalnya: doa dan semangat. Ketika dirundung masalah…getol skali meminta –dukungan-…sampai-sampai semua nama di–phone book- kita hubungi.. namun ketika –bahagia-..ingat namanya saja, tidak.
Betul juga kata Bung Karno: JAS MERAH jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! karena, dengan sejarah..kita bisa mengevaluasi kesalahan kita di masa lalu. Dengan sejarah..kita pun bisa mengulangi –kejayaan- di masa lalu. Yup, sejarah itu adalah masa lalu yang dapat diolah sehingga menjadi relevan di masa kini… :)
Wallahu'alam bishawab...
PREMIER LESSON’s
Bismillah..
PREMIER LESSON’s
Saya pernah
mengalami suatu fase dimana saya amat “resah” bertemu dengan hari esok. Why? Karena saya membayangkan akan
kembali bertemu dengan “sekelompok anak” yang membuat saya merasa terancam.
Hampir setiap hari dalam tahun tersebut saya dihantui rasa demikian. Paranoid
yang kadang melemahkan tujuan. Padahal, bila saya rasionalisasikan lagi..mereka
itu adalah anak-anak, hanyalah anak-anak!
Masya Allah,
saya akui merasa sangat kewalahan di tahun pertama saya mengajar. Saya belum
“lihai” untuk mengkondisikan kelas, including
penghuninya. Selalu merasa salah langkah, kadang jadi salah tingkah. Hari demi
hari berganti, waktu pun terus berlalu..lambat laun saya mulai adaptif. Saya
mulai dapat meraba situasi, memahami “does
and doesn’t” .
Titik pencerahan
awal yang saya dapatkan adalah, mulailah sesuatu dengan “husnudzan”,
berprasangka baik. Termasuk ketika hendak memulai pekerjaan, memulai mengajar
dan mendidik anak-anak. Kurang lebih, apa yang kita pikirkan dapat memicu
“alam” untuk bereaksi serupa. Ketika saya mencoba bertemu dengan anak-anak,
saya kondisikan hati saya terlebih dulu untuk rileks dan senang. That’s quite works!
Kalaupun
ternyata reaksi anak tidak sesuai dengan yang kita harapkan, setidaknya saya
memang sudah menyiapkan hati yang senang tanpa beban, sehingga apapun yang saya
hadapi terasa lebih ringan. Energi saya tidak terbuang percuma karena
“ketakutan-ketakutan” yang belum tentu terbukti atau bahkan tidak sesuai sama
sekali. Apalagi ketika menyadari bahwa guru adalah orang dewasa yang seharusnya
memang lebih bisa memahami kondisi anak-anak didiknya. Masak iya, saya yang
harus memaksa anak untuk memahami kondisi saya..its sound funny.
Subhanallah,
belajar pun bisa dari siapa saja tidak terkecuali anak didik kita. Natural
mereka dalam bertutur kata dan bertingkah laku, membuatku belajar banyak apa
arti ketulusan dan kejujuran. Anyway, bagaimanapun “kondisi” mereka..saya tidak
bisa mengguggat, karena inilah tugas selaku pendidik, menanamkan nilai kebaikan
kepada anak-anaknya. Meskipun, saya akui bahwa di tahun perdana saya mengajar,
porsi terbesar pembelajaran saya adalah bagaimana agar saya tetap survive dengan berbagai tantangan yang
saya hadapi dan survive dari
tantangan dengan hati yang tetap tenang.
Perjuangan masih
terus berlanjut kawan!!! Ganbatte..
^^v
Langganan:
Komentar (Atom)








